Gambaran Operasi AV-Shunt di RSKG Ny.R.A Habibie Bandung

Gambaran Operasi AV-Shunt di RSKG Ny.R.A Habibie Bandung Periode dan Peranan Perawat Dalam Penatalaksanaan Komplikasi dan Masalah AV-Shunt
TONI RAHMAT JAELANI
RSKG Ny.R.A Habibie Bandung

ABSTRAK
Evaluasi mengenai hasil operasi AV-Shunt masih jarang di laporkan terutama mengenai data fisiologis pembuluh darah, data hasil laboratorium darah pra operasi, komplikasi dan masalah AV-Shunt serta tingkat kegagalan dan keberhasilan AV-Shunt. Peranan perawat sangatlah besar untuk membantu dan menjaga keberhasilan operasi AV-Shunt mulai dari mempersiapkan, menggunakan dan melakukan tindakan pengawasan untuk mencegah supaya tidak terjadi masalah dan komplikasi selama digunakan.

AV-Shunt

Data mengenai kelainan pembuluh darah dan laboratorium darah diambil dari laporan operasi selama 1 tahun terakhir ( September 2007-September 2008 ) sedangkan data mengenai komplikasi, pemakaian serta kegagalan dan keberhasilan AV-Shunt di ambil dari questioner dan wawancara langsung pada pasien yang melakukan hemodialisis rutin pada tanggal 27, 28 dan 29 oktober 2008. Penulis mencoba menghubungkan data hasil wawancara dan questioner dengan data yang ada di ruang operasi pada periode 1 tahun terakhir sehingga penulis akhirnya dapat melihat berbagai faktor penyebab komplikasi, keberhasilan dan kegagalan AV-Shunt yang selanjutnya melibatkan peran dan fungsi perawat dalam menangani berbagai permasalahan tersebut.
Dari data laporan operasi pada 1 tahun terakhir ( September 2007 sampai September 2008 ) dengan jumlah pasien 221 orang terdapat 62 orang ( laki-laki 45 orang dan perempuan 17 orang ) mengalami berbagi perubahan fisiologis pada pembuluh darah dan 9 orang diantaranya mengalami kegagalan AV-Shunt dan yang lainya berhasil digunakan.
Dari hasil laboratorium darah pra operasi terdapat 45 pasien yang dilakukan operasi AV-Shunt mempunyai nilai laboratorium dibawah rekomendasi ahli bedah dan internis ( Disaran kan Hb ≥ 8 mg/dl, Trombosit ≥ 150.000, Gula Darag Sewaktu dibawah 200 mg/dl ) dan 7 orang diantaranya hasil operasi AV-Shunt tidak dapat digunakan .

Data yang ke dua di ambil dari hasil questioner dan wawancara langsung dari pasien yang menjalani HD rutuin pada tanggal 27, 28 dan 29 Oktober 2008 dengan jumlah 216 pasien yang melakukan operasi AV-Shunt di RSKG
Dari data 216 pasien tersebut ditemukan 18 orang pernah mengalami komplikasi diantaranya 7 orang mengalami pembengkakan pada tangan yang dilakukan AV-Shunt, 7 orang aneurisma yang terlokalisir, 3 orang infeksi 2 karena area operasi terkena air sebelum luka operasi sembuh dan 1 orang infeksi setelah 7 bulan pemasangan AV-Shunt dan 1 orang dilakukan penutupan AV-Shunt atas saran internist karena mempunyai resiko kardiovaskular ( decompensatio cordis ) dan beralih ke CAPD.
Akhirnya Dari data 216 pasien tersebut penulis merujuk pada tingkat keberhasilan dan kegagalan operasi AV-Shunt, ternyata ada 34 orang sebelumnya pernah mengalami kegagalan atau kematian AV-Shunt, 19 orang diantaranya pernah digunakan terlebihdulu dan 15 orang belum pernah digunakan samasekali setelah operasi AV-Shunt dilakukan. Pada AV-Shunt yang pernah digunakan kemudian mengalmai kegagalan atau penyumbatan berbagai kemungkinan penyebab ditemukan yaitu hivopolemia ( Hipotensi ,muntah dan diare ) ,infeksi, anerisma dan jika di lihat dari laporan operasi ternyata sebagian pasien ynag mengalami kegagalan juga memiliki kelainan fisiologis pembuluh darah.

Mengenai periode pemakaian AV-Shunt terdapat 185 pasien yang dilakukan operasi di RSKG Ny.R.A Habibie dengan ahli bedah Prof.Hendro S.Y dr.Sp.B-KBV.Ph.D dengan periode penusukan yaitu 131 pasien dilakukan penusukan AV-Shunt pada 1 minggu pertama setelah operasi, 30 pasien dilakukan penusukan AV-Shunt pada 2 minggu setelah operasi, 11 pasien dilakukan penusukan AV-Shunt pada 3 minggu setelah operasi, 10 pasien dilakukan penusukan AV-Shunt pada 1 bulan setelah operasi dan 3 pasien dilakukan penusukan AV-Shunt lebih dari 1 bulan setelah operasi. Dari data di atas tidak ditemukan kelainan atau komplikasi dan perbedaan pada penusukan yang lebih awal maupun pada penusukan yang lebih lama.
Bagian keperawatan adalah unit fungsional dalam pelayanan hemodilisis yang secara langsung berhubungan dengan penggunaan AV-Shunt maka peranan perawat secara professional dalam melakukan akses vascular dan mempersiapkan pasien untuk tindakan operasi AV-Shunt diharapkan dapat mengurangi kegagalan dan komplikasi yang timbul pada AV-Shunt.

BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang
Kemajuan teknologi di berbagai bidang kehidupan terutama di bidang kesehatan menuntut Sumber Daya Manusi selalu ditingkatkan, terutama perawat sebagai salah satu unit fungsional bidang kesehatan diharuskan selalu meningkatkan ilmu pengetahuannya melalui pendidikan maupun pelatihan kursus keperawatan.
Akhir-akhir ini penyakit degeneratif kronis sering muncul sebagai penyebab berbagai kematian. Gagal ginjal merupakan salah satu penyakit yang terjadi akibat komplikasi kronis seperti dibates mellitus ( DM ), Hipertensi dan banyak lagi penyakit kronis lain. Gagal ginjal yang terjadi akibat komplikasi tersebut biasanya bersifat ringan , sedang dan berat, sekarang ini Gagal Ginjal Terminal ( GGT ) atau End Stage Renal Diseas ( ESRD ) ramai di bicarakan karena bukan hanya menyangkut soal bagian kesehatan saja tetapi juga melibatkan lintas bidang kesehatan karena biaya penatalaksanaan yang tidak murah.
Data yang didapat dari Indonesiaan Renal Registry jumlah pasien baru yang menjalani hemodialisis pada tahun 2007 sebanyak 2839 orang dari 20 renal unit sedangkan pada tahun 2008 dari bulan januari sampai juni sebanyak 1429 orang, data pada tahun 2008 ini tampaknya akan semakin bertambah karena banyaknya renal unit yang belum memasukan data.
Dengan banyaknya Pasien Gagal Ginjal Terminal ( GGT ) tersebut kebutuhan akan perawat dialysis semakin meningkat. Untuk menjadi perawat hemodialisis perawat perlu melakukan pendidikan khusus untuk mempelajari berbagai tekhnik dialysis yang biasanya menggunakan alat atau mesin dan cara yang khusus.
Dalam Terafi Ginjal Pengganti ( TGP ) tidak terlepas dengan akses vaskuler terutama pada hemodialisis. Data lain yang didapat dari RSKG Ny. R.A Habibie pada bulan September 2008 dengan jumlah total ebanyak 300 pasien menunjukan bahwa penggunaan AV-Shunt sebagai akses vascular sangat besar yaitu sekitar 96 % dan sisanya femoral dan cateter double lumen.
Barbagai keadaan dan komplikasi penyakit dapat mempengaruhi AV-Shunt baik sebelum maupun setelah operasi maka dengan itu perawat hemodialisis berperan penting mulai dari menyarankan dan memotivasi pasien untuk AV-Shunt, memberikan informasi yang adequate tentang AV-Shunt, mengatasi dan mengobservasi berbagi komplikasi Selama pengunaan AV-Shunt dan tentunya memelihara AV-Shunt selama AV-Shunt digunakan.
AV-Shunt adalah Peroses penyambungan ( anstomosis ) pembuluh darah vena dan arteri dengan tujuan untuk memperbesar aliran darah vena supaya dapat digunakan untuk keperluan hemodialisis ( Ronco 2004 )
Melihat begitu besarnya peranan perawat HD pada vaskular akses AV-Shunt dimana perawat dapat melakukan semua peran dan fungsinya sesunai dengan teori keperawatan yang mereka dapatkan maka dengan ini kami penulis menyusun dan melakukan penelitian terbatas mengenai “Peranan Perawat Hemodialisis Pada Vaskular akses AV-Shunt “
II. Tujuan
A.Tujuan Umum
Memberikan pedoman dan gambaran Penatalaksanaan keperawatan pada vascular Akses AV-Shunt sehingga dapat mencegah terjadinya komplikasi.
B.Tujuan Khusus
A. Perawat Dapat Menyarankan dan memberi motivasi dengan informasi yang adequate mengenai salah satu vascular akses AV-Shunt
B. Perawat Dapat Membantu Ahli Bedah untuk Melakukan Persiapan AV-Shunt
C. Perawat Dapat melakukan intervensi keperawatan pada berbagai komplikasi pada AV-Shunt
D. Perawat dapat melakukan tindakan pencegahan komplikasi dan pemeliharaan selama AV-Shunt digunakan.
E. Perawat dapat mengetahui kapan waktu yang tepat untuk mengagunakn AV-Shunt
F. Memberikan berbagai gambaran mengenai AV-Shunt dan berbagai permasalahan melalui penelitian, sebagai acuan tindakan keperawatan.
III. Manfaat Penelitian
A. Untuk Penulis
1. Mengembangkan ilmu pengetahuan keperawatan di bidang hemodialisis khususnya mengenai akses vaskuler
2. Memiliki acuan untuk melakukan intervensi keperawatan berdasarkan data penelitian
3. Meningkatkan kemampuan dalam melaksankan peran dan fungsi perawat
B. Untuk profesi keperawatan
Meningkatkan ilmu pengetahuan di bidang keperawatan hemodialisis khususnya di bidang akses vaskular AV-Shunt dengan metode dan cara baru melalui penelitian
C. Untuk Lahan penelitian
1. Memiliki data mengenai penggunaan dan cara perawatan akses vaskuler AV-Shunt untuk dijadikan prosedur tetap penatalaksanaan keperawatan
2. Meningkatkan mutu pelayanan hemodialisis terutama masalah akses vascular
3. Memiliki dasar dan pedoman dalam pelaksanan keperawatan m,elalui penelitian
IV. Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan metodedeskriptif yaitu bertujuan memberikan gambaran tentang sesuatu masyarakat atau suatu kelompok tertentu atau gambaran tentang suatu gejala atau hubungan antara dua gejala atau lebih ( Irwan Suhartono, 1998 : 35 )
Metode penelitian ini bertujuan menggambarkan keadaan yang sebenarnya tentang AV-Shunt dan berbagai permasalahan yang berada didalamnya serta sejauhmana perannan perawat dalam melakukan intervensi terhadap permasalahan yang muncul berdasarkan data dan literature yang ada.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah ;
A. Wawancara dan quisioner yaitu berusaha mendapatkan data sebanyak mungkin dari responden yang terdiri dari pasien yang menjalani Hemodilisis rutin di RSKG Ny.R.A Habibie Bandung.
B. Studi kepustakaan dengan jalan membaca dan mempelajari literatur ( buku, skripsi, majalah, koran dan membuka situs internet )
Tahap pengumpulan data ;
A. Data dari ruang operasi selama 1 tahun terakhir yaitu bulan September 2007 sampai September 2008 )
B. Melakukan wawancara dan Tanya jawab langsung
C. Memeberikan quisioner
D. Melakukan pengolahan data sesuai dengan sistematika yang diinginkan
E. Menuangkan data dalam bentuk narasi dan grafik
F. Melakukan analisa dari data yang telah terkumpul dan menghubungkanya menjadi suatu korelasi
G. Memasukan berbagai peranan dan fungsi perawat yang dapat dilakukan sesuai deata yang diperoleh..
V. Waktu dan Tempat penelitian
Penelitian ini dilakukan RSKG Ny.R.A Habibie Bandung dengan mengambil data dari laporan operasi periode September 2007 sampai September 2008 alasan penulis memilih rumasakit ini karena RSKG Ny.R.A Habibie Bandung merupakan salah satu sentra hemodilisis terbesar se jawabarat bahkan mungkin se Indonesia. Selain ini penulis merupakan perawat yang bgertugas di RSKG dan berkesempatan untuk menjadi asisten

ahli bedahnya, jadi diharapkan dengan mengikuti perjalanan operasi AV-Shunt sampai dengan mengobservasi berbagai permasalahannya selama digunakan penulis berharap dapat membagi pengalaman dan pemgembangan peranan perawat dalam melakukan salah satu akses vaskular yaitu AV-Shunt.
Waktu dilakukanya quisioner dan wawancara yaitu tanggal 27, 28 dan 29 Oktober 2008 dengan jumlah 216 pasien. Sedangkan data lain diolah dan dikonsulkan ke ahli bedahnya Prof.Hendro S.Y dr.Sp.B-KBV.Ph.D selama 1 minggu dan di setujui oleh berbagai pihak yang berhubungan di RSKG Ny.R.A Habibie Bandung.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. Vaskular Akses
A. Akses Vascular Pada Terapi Ginjal Pengganti
1. Pengertian Vascular Akses
Vasvular access adalah istilah yang berasal dari bahasa inggris yang berarti jalan untuk memudahkan mengeluarkan darah dari pembuluhnya untuk keperluan tertentu, dalam kasus gagal ginjal terminal adalah untuk proses hemodilisis.
2. Alasan Pemasangan Vaskular Akses
Pemasangan Vaskular diharapkan dapat memudahkan dokter dan perawat untuk melakukan akses atau penusukan sehingga lebih mudah dan mengurangi resiko dari penusukan yang dilakukan pada tempat lain seperti area femoral.
3. Bentuk Vaskular Akses Untuk Terapi Ginjal Pengganti
a. Sejenis alat berupa saluran atau kanula ( kateter ) yang dimasukan kedalam lumen pembuluh darah seperti sub clavia dan jugular.
b. Berupa pembuluh darah vena atau pembuluh darah buatan ( politetrafluroetilen nama dagang : gerotek ) yang disambungkan ( anstomosis ) dengan arteri ( AV-shunt/Brecia cimino ) (
( Ronco, 2004 : 53 )
B. Vaskular Akses Dengan Metode Anastomosis Arteri Dengan Vena ( AV – Shunt )
1. Pengertian AV – Shunt
AV-shunt adalah penyambungan pembuluh darah vena dan arteri dengan tujuan untuk memperbesar aliran darah vena supaya dapat digunakan untuk keperluan hemodialisis
2. Teknik Penyambungan atau Anatomosis Pada AV – Shunt
a. Side ( sisi ) to End ( ujung ) adalah teknik penyambungan dengan menyambungkan pembuluh darah vena yang dipotong dengan sisi pembuluh darah arteri.
b. Side ( sisi ) to side (Sisi ) adalah teknik penyambungan dengan menyambungkan sisi pembuluh darah vena dengan sisi pembuluh darah arteri.
c. End ( ujung ) to End ( ujung ) adalah teknik penyambungan dengan menyambungkan pembuluh darah vena yang dipotong dengan pembuluh darah arteri yang juga di potong
d. End ( ujung ) to side ( sisi ) adalah teknik penyambungan dengan menyambungkan pembuluh darah arteri yang dipotong dengan sisi pembuluh darah vena.
Teknik penyambungan side to end merupakan teknik yang tersering dilakukan karena aliran darah vena yang menuju ke jantung adalah yang terbesar volumenya ( lihat table 1 ) dan mencegah terjadinya hipertensi vena selain itu teknik ini juga dapat mencegah pembengkakan

3. Waktu terbaik untuk AV – Shunt
Waktu terbaik untuk AV – Shunt adalah pada masa awal setelah penderita dinyatakan menderita gagal ginjal tahap akhir. Keuntungannya adalah memudahkan ahli bedah untuk melakukan operasi karena kulitas pembuluh darah belum terkena terauma penusukan dan komplikasi lain dari penyakit yang menyertai gagal ginjal seperti penyakit yang menyebabkan terjadinya arterosklerosis atau hiperpalsia sel pembuluh darah.
4. Komplikasi AV – Shunt
a. Thrombotic occlusion
b. .Non- Thrombotic occlusion:
1) Bleeding – Early complication ( 8 mg/dl, Trombosit dalam batas normal,Gula Darah Sewaktu dalam batas normal untuk pasien tanpa riwayat DM dan untuk pasien dengan DM harus dikonsultasikan lagi dengan ahli bedahnya ( Berdasarkan pengalaman GDS dibawah 200 mg/dl bisa di lakukan operasi AV-Shunt )
3. Penting untuk perawat untuk menghindari akses vaskular ( outlet ) pada tangan yang akan dilakukan operasi.
4. Lakukan program free heparin sebelum dilakukan operasi,menurut literatur sebaiknya heparin tidak diberikan 6-8 jam sebelum operasi dan diharapkan tidak diberikan kembali setelah 12 jam post operasi atau dikondisikan sampai luka operasi mengering.
5. Latihan dibutuhkan pada pasien yang mempunyai pembuluh darah yang sangat kecil saat di insfeksi atau palpasi.
6. Sebelum operasi perawat HD bisa melakukan palpasi pada arteri radialis dan ulnaris untuk merasakan kuat tidaknya aliran darah arterinya kemudian dilaporkan ke ahli bedah.bila salah satu arteri (a.radilis/a.ulnaris ) tidak teraba dan tidak ditemukan dengan alat penditeksi ( dopler ) maka kontra indikasi untuk dilakukan AV-Shunt. ( Ronco : 2004, Sumer DS, 1987, Suzane C,2002 )

C. Intervensi Keperawatan Pada Berbagai Komplikasi Dan Masalah AV – Shunt

MASALAH : Perdarahan
PENYEBAB
• Biasanya terjadi karena trauma insisi jaringan
• Jika perdaran menimbulkan pembengkakan yang hebat dimungkinkan karena kebocoran anatomosis tapi sangat jarang
• Jika perdarahan hanya rembes atau sedikit dimungkinkan dari jaringan kutis atau subkutis.

INTERVENSI PERAWAT
• Jika tidak disertai pembengkakan perawat HD bisa melakukan penekanan dengan deper atau kasa pada bagian yang mengalami perdarahan
• Jika disertai dengan pembengkakan segera lapor ahli bedahnya.
• Berikan penjelasan pada pasien supaya tidak terjadi kepanikan

MASALAH : Oedema atau Pembengkakan bagian tangan yang di operasi
PENYEBABA :
• Trombus
• Pembuluhdarah vena yang tidak cukup kuat menerima aliran arteri yang besar
• Infeksi
• Kebocoran pada area anastomosis atau pembuluh darah lain yang terkena tarauma selama operasi
• Penusukan yang gagal dan berulang, adanya trauma
• Bila pembengkakan teraba thrill dan terdengar bruit maka itu disebabkan oleh paseudo aneurisma (aneurisma palsu). Aneurisma palsu disebabkan oleh darah yang keluar dari arteri karena penusukan arteri ( arteri tak sengaja tertusuk ) yang tamudah berhenti walaupun dengan tekanan.

INTERVENSI PERAWAT :
• Perawat dapat menyarankan posisi lengan yang oedem ditinggikan untuk memperbaiki aliran balik vena
• Hidari penusukan yang berulang-ulang terutama pada pemakaian pertama
• Observasi adanya perdarahan masiv Di dalam jaringan bawah kulit

MASALAH : Infeksi
PENYEBAB :
• Penurunan imun orang HD
• luka operasi terkena air
• Jika AV-Shun sudah dipakai bisa karena akses yang tidak steril
• Peralatan operasi yang tidak bersih
• Trauma
• Adanya aliran balik vena yang terganggu karena trombosis
• Biasanya terjadi bila operasi berlangsung sulit dan lama ( > 1,5 jam ) dengan luka operasi yang besar ( > 10-15 cm )
• Luka operasi yang masih basah terkena air (lembab )

INTERVENSI PERAWAT :
• kolaborasi dengan dokter bedah untuk pemberian terafi
• Hindarai luka operasi terkena air
• penutupan av-shunt jika komplikasi lain dari infeksi spt anerisma

MASALAH : Anerisma Vena
PENYEBAB :
Anerisma merupakan perubahan yang wajar jika jaringan kulit masih dinggap kuat dan tidak terjadi secara terlokalisir di suatu tempat dengan pembengkakan yang menonjol.
• Karena tekanan darah vena menjadi tinggi oleh aliran darah arteri
• penusukan yang berulang-ulang di suatu tempat
• Trauma
• Hipertensi

INTERVENSI PERAWAT :
• Hindari penusukan di area yang sama
• Lakukan penusukan jauh dari area operasi jika baruit atau trill cukup besar
• Hindari tekanan yang berlebih pada area AV-Shunt
• Cegah infeksi
• Menjaga supaya hipertensi terkontrol
• Hindari overhidrasi berat

MASALAH : Trombosis
PENYEBAB :
• Kesalahan prosedur operasi
• Darah yang mudah beku ( hiperkoagulasi )
• Trauma tekanan yang lama
• Penekanan pada area AV-Shunt atau pada pembuluh darah vena yang dianastomosis
• Hipovolemia ( muntah, diare, hipotensi)
• Penekanan pada area vena yang dianastomosis atau penekanan langsung pada area anastomosisnya

INTERVENSI PERAWAT :
• Laporkan ke ahli bedah
• Heparinisasi yang efektif saat hemodialisisi
• hindari terjadinya hipotensi terutama pada AV-Shunt yang baru
• jelaskan pada pasien bagaimana penekana pada area AV-Shunt akan mempunyai dampak buruk pada hasil operasi.

MASALAH : Adanya rasa dingin, nyeri kesemutan,kelemahan otot pada bagian distal dari luka operasi AV-Shunt
PENYEBAB :
Terjadi karena aliran darah arteri yang mensuplai darah ke bagian distal dari AV-Shunt tercuri oleh adanya anastomosis sehingga terjadi iskemia jaringan. Selain itu dimungkinkan juga karena a.radilais dan a.ulnaris yang tersumbat karena trombosis.

INTERVENSI PERAWAT :
• Segera laporkan ke ahli bedah dan kemungkinan dilakukan penutupan AV-Shunt
• observasi lebih lanjut tanda – tanda iskemia jaringan.

MASALAH : Post HD Akses Lama Berhenti
PENYEBAB :
• Penusukan di jaringan atau tempat yang sama
• Trombositopenia
• Aliran AV-Shunt yang Kencang
• Hipertensi

INTERVENSI PERAWAT :
• Lakukan Penekanan 15-30 menit post akses dilepas
• Kolaborasi dengan dokter untuk memberikan antikoagulan, bisanya dilakukan penekanan dengan deper yang telah di tetesi adrenalin / transamin.
• Di luar negri ada plister yang bernama Microporus polysaccharide Partikeles, dimana plister ini dapat menyerap plasma darah sehingga pembekuan diharapkan akan makin cepat.
• Jika tidak tertangani obserpasi lanjutan post HD sebaiknya di lakukan di RS karena ditakutkan terjadi perdarahan di rumah.

D. Kapan AV – Shunt di Gunakan Perawat
1. Penggunaaan AV-Shunt biasanya di rekomendasikan oleh ahli bedahnya
2. Sebagai pertimbangan bahwa pernyembuhan pembuluh darah yang lengkap atau sempurna terjadi pada akhir minggu ke lima atau 35 hari setelah operasi, sedangkan luka jaringan kulit sudah kering mulai 2 hari post operasi dan penyembuhan epitel luka kulit terjadi pada akhir minggu ke dua.
3. Apabila setelah waktu yang ditentukan ( direkomendasikan ) ahli bedah perawat belum bisa atau belum cukup berani menggunakan AV-Shunt yang biasanya disebabkan oleh : aliran darah vena ( bruit/tril ) masih kecil, pembuluh darah vena belum nampak saat di inspeksi,palpasi dan pembengkakan, maka laporkan ke ahli bedah dan sarankan pasien untuk kembali melakukan latihan diantarnya dengan mengepal-ngepalkan tangan dan digunakan untuk aktivitas biasa.
4. Berdasarkan Penelitian dari Prof.Hendro S.Y dr.Sp.B-KBV.Ph.D dan dr.Marven dalam Skripsi S-2 Kedokterannya menunjukan bahwa penggunaan AV-Shunt untuk HD kurang dari 7 hari setelah operasi dibandingkan dengan lebih dari 7 hari setelah operasi secara statistik menunjukan perbedaan yang tidak nyata dalam hal terjadinya komplikasi tromboisi,perdarahan dan infeksi. Berdasarkan penelitian tersebut maka AV-Shunt dapat digunakan sesegeramungkin untuk HD apalagi untuk pasien dengan kedua femoral yang sudah bengkak dan tidak terpasang sub clavia dengan pertimbangan lain yang disebutkan sebelumnya.
( Ronco. 2004, Sumer DS. 1987, Suzane C.2002,Yuwono HS. 2008 1-10, Doengoes.2000,Capernito.1998 )

BAB III
DATA PENELITIAN

I. Kenapa Perawat Perlu Menyarankan AV-Shunt Sedini Mungkin
A. Data dari Ruang Operasi RSKG Ny.R.A Habibie Bandung pada 1 tahun terakhir ( September 2007 sampai September 2008 ) dengan jumlah pasien 221 orang terdapat 62 orang ( laki-laki 45 orang dan perempuan 17 orang ) mengalami berbagi perubahan fisiologis pada pembuluh darah.

B. Dari data diatas terdapat ada 9 orang mengalami kegagalan dengan kelainan fisiologis pembuluh darah yaitu 3 orang mengalami diseksi, 4 orang arteroma dan kalsifikasi dan 2 orang dengan pembuluh darah tebal.

C. Dari data keseluruhan pada 1 tahun terakhir ini dapat di bandingkan bahwa keberhasilan operasi masih sangat besar yaitu 96% di dibandingkan dengan kegagalan yang disebabkan oleh faktor fisiologis pembuluh darah yaitu sebesar 4 %.
B. Dengan mempercepat operasi AV-Shunt telah memudahkan perawat dalam melakukan akses vascular ( penusukan ), selain itu akses pada vena femoralis menimbulkan komplikasi lain selama pemakaian terutama anerisma dan pembengkakan. Data hasil pendataan melalui quisioner dan tanya jawab langsung dari pasien yang menjalani HD rutuin pada tanggal 27, 28 dan 29 Oktober 2008 dengan jumlah 216 pasien yang melakukan operasi AV-Shunt di RSKG, 30 pasien pernah mengalami pembengkakan di femoral dan 5 orang diantaranya harus menjalani operasi anerisma.
Persiapan Apa Saja Yang Harus Dilakukan Perawat Untuk Pasien Yang Akan Melakukan Operasi
A. Data dari Ruang Operasi RSKG Ny.R.A Habibie Bandung pada 1 tahun terakhir ( September 2007 sampai September 2008 ) dengan jumlah pasien 221 orang terdapat 45 pasien yang dilakukan operasi AV-Shunt mempunyai nilai laboratorium dibawah rekomendasi ahli bedah dan internist.

B. Dari data jika dihubungkan dengan keberhasilan operasi 7 orang hasil operasinya tidak dapat digunakan dengan rincian 3 orang karena Hb yang rendah, 2 orang karena trombosit yang rendah dan 2 orang karena GDS yang tinggi.
C. Akhirnya kita akan merujuk pada seberapa besar keberhasilan operasi AV-Shunt dengan berbagai permasalahan dan kesulitan yang ada. Dari data secara keseluruhan di Ruang Operasi RSKG Ny.R.A Habibie Bandung pada 1 tahun terakhir ( September 2007 sampai September 2008 ) dengan jumlah pasien 221 orang kegagalan atau penyumbatan yang disebabkan karena faktor fisiologis pembuluh darah dan nilai labiratorium yang tidak memenuhu sarat mencapai 17 orang.
D. Tetapi data ini tidak dapat dijadikan acuan namun harus menjadi program prepentif untuk menghindari kegagalan AV-Shunt. Persiapan perawat melalui kolaborasi dengan dokter untuk memperbaiki dan mengobservasi nilai laboratorium sangat besar apakah melalui pemberian tranfusi ( PRC atau FFC ) atau penatalaksanaan yang lain.

Berapa Besar Komplikasi Yang Timbul Dari Pemasangan dan Pemakaian AV-Shunt
Data hasil pendataan melalui quisioner dan tanya jawab langsung dari pasien yang menjalani HD rutuin pada tanggal 27, 28 dan 29 Oktober 2008 dengan jumlah 216 pasien yang melakukan operasi AV-Shunt di RSKG dari tahun 2001 sampai tahun 2008 ditemukan 18 orang pernah mengalami berbagai komplikasi yaitu 7 mengalami pembengkakan pada tangan yang dipasang AV-Shunt, 7 orang aneurisma yang terlokalisir, 3 orang infeksi 2 karena area operasi terkena air sebelum luka operasi sembuh dan 1 orang infeksi setelah 7 bulan pemasangan AV-Shunt dan 1 orang dilakukan penutupan AV-Shunt atas saran internist karena mempunyai resiko kardiovaskular ( decompensatio cordis ) dan beralih ke CAPD.

Berapa Besar Peranan Perawat Dalam Menghindari Kegagalan AV-Shunt
A. Dengan mempercepat operasi AV-Shunt telah memudahkan perawat dalam melakukan akses vascular ( penusukan ), selain itu akses pada vena femoralis menimbulkan komplikasi lain selama pemakaian terutama anerisma dan pembengkakan. Data hasil pendataan melalui quisioner dan tanya jawab langsung dari pasien yang menjalani HD rutuin pada tanggal 27, 28 dan 29 Oktober 2008 dengan jumlah 216 pasien yang melakukan operasi AV-Shunt di RSKG ternyata terdapat 34 orang sebelumnya pernah mengaami kegagalan atau kematian AV-Shunt, 19 orang diantaranya pernah digunakan terlebihdulu dan 15 orang belum pernah digunakan samasekali setelah operasi AV-Shunt dilakukan

B. Keterangan yang didapatkan pasien dari dokter dan perawat beberapa penyebab di katakana ke 34 pasien tersebut dan jika di kategorikan adalah sebagai berikut :
1. Dari 16 pasien yang dilakukan operasi di RSKG, 5 pasien karena hivopolemia ( Hipotensi ,muntah dan diare ), 2 orang karena infeksi dan 1 orang anerisma sehingga harus dilakukan penutupan AV-Shunt, 8 orang lainya setelah di lihat dari laporan operasi ternyata mengalami kelainan fisiologis pembuluh darah.
2. Dari 18 pasien yang dilakukan di luar RSKG, 9 orang mengalami kematian AV-Shunt setelah mengalami diare,muntah dan hipotensi on HD, 3 orang karena infeksi, 3 orang amerisma dan 3 orang lainnya karena tidak diketahui penyebabnya.

Kapan AV-Shunt Digunakan
A. Berdasarkan Penelitian oleh Prof.Hendro S.Y dr.Sp.B-KBV.Ph.D dan dr.Marven dalam Skripsi S-2 Kedokterannya menunjukan bahwa penggunaan AV-Shunt untuk HD kurang dari 7 hari setelah operasi dibandingkan dengan lebih dari 7 hari setelah operasi secara statistik menunjukan perbedaan yang tidak nyata dalam hal terjadinya komplikasi trombosis, perdarahan dan infeksi. Berdasarkan penelitian tersebut maka AV-Shunt dapat digunakan sesegeramungkin untuk HD apalagi untuk pasien dengan kedua femoral yang sudah bengkak dan tidak terpasang kateter sub-clavia dengan pertimbangan lain yang disebutkan sebelumnya.
B. Dengan acuan penelitian di atas maka dilakukan penusukan AV-Shunt lebih awal, data dari pasien yang menjalani HD rutuin pada tanggal 27, 28 dan 29 Oktober 2008 dengan jumlah 216 pasien yang melakukan operasi AV-Shunt di RSKG dan berikut ini adalah periode penusukan AV-Shunt setelah dilakukannya operasi.
C. 131 pasien dilakukan penusukan AV-Shunt pada 1 minggu pertama setelah operasi, 30 pasien dilakukan penusukan AV-Shunt pada 2 minggu setelah operasi, 11 pasien dilakukan penusukan AV-Shunt pada 3 minggu setelah operasi, 10 pasien dilakukan penusukan AV-Shunt pada 1 bulan setelah operasi dan 3 pasien dilakukan penusukan AV-Shunt lebih dari 1 bulan setelah operasi.

D. Dari data tersebut tidak didapatkan kelainan keluhan dan komplikasi lain yang terjadi setelah penusukan dilakukan.

BAB IV
KESIMPULAN
Perawat dan tim medis perlu menyarankan pasien melakukan AV-Shunt untuk menghindari kerusakan pembuluh darah lebih lanjut dari beberapa komplikasi penyakit yang mennyertai gagal ginjal. Data dari laporan operasi pada 1 tahun terakhir ( September 2007 sampai September 2008 ) dengan jumlah pasien 221 orang terdapat 62 orang ( laki-laki 45 orang dan perempuan 17 orang ) mengalami berbagi perubahan fisiologis pada pembuluh darah dan 9 orang diantaranya mengalami kegagalan AV-Shunt dan yang lainya berhasil digunakan. Tindakan prefentif dapat dilakukan perawat seperti menghindari penusukan di area tangan yang akan di lakukan AV-Shunt, Hindari program heparinisasi sebagai antisipasi perdarahan, di RSKG Ny.R.A Habibie semua pasien yang akan dilakukan operasi tidak di lakukan program heparinisasi.
Data operasi AV-Shunt RSKG Ny.R.A Habibie Bandung pada 1 tahun terakhir 15 orang yang sebelumnya di lakukan penusukan pada area yang akan di oper ( 3 hari sampai beberapa jam sebelum operasi ) mengalmai beberapa masalah mulai dari hematom dan kerusakan vena , kebocoran vena dan jaringan vena yang mengakami thrombus setelah penusukan. Berbagai masalah pada hasil laboratorium kadang menjadi kendala tertentu untuk untuk melakukan tindakan operasi tapi dari data yang ada ternyata keberhasilan tindakan AV-Shunt dengan nilai laboratorium pasien rendah bukanlah kendala yang mengakibatkan operasi harus ditunda mengingat komplikasi yang timbul dari penusukan area femoral tidaklah ringan dan penatalaksanaan untuk memperbaiki nilai laboratorium orang GGT pun tudaklah dalam jangka yang pendek dan mudah.
Berbagai komplikasi ternyata timbul saat AV-Shunt sudah berhasil dipakai disini tentunya perawat sangat berperan dalam memelihara AV-Shunt untuk menghindari berbagai komplikasi karena perawatlah yang menggunkan AV-Shunt dalam pelaksanaan hemodialisis.Beberapa teknik dapat dilakukan perawat untuk menghindari komplikasi tersebut seperti menghindari penusukan pada tempat yang sama, melakukan penusukan sejauhmungkin dari pusat anastomosis, melakukan teknik septik-antiseptik selama penusukan dan menyarankan pasien untuk menghindari segala bentuk trauma pada AV-Shunt. Dilihat dari data penelitian perawat berperan juga untuk menghindarkan kematian AV-Shunt dari berbagi komplikasi terutama selama pemakaian, hipotensi on HD harus dapat diatasi terutama pada AV-Shunt yang baru dan jangan sampai hipotensi berlanjut hingga pasien pulang karena akan sulit tertangani, aneurisma dan infeksi merupakan biasanya terjadi karena dampak akses yang berulang dan tidak steril. Berbagai penyebab kematian AV-Shunt diatas adalah hal yang sehari-hari perawat hadapi, usaha pencegahan adalah yang terbaik selain terus melakukan observasi pada penyebab yang sedang atau sudah terjadi. Dari data penelitian juga ternyata tidak ditemukan masalah walaupun dilakukan penusukan sewdini mungkin, selain data diatas pertimbangan lain yang di uraikan pada BAB II sebelumnya mengenai penyembuhan luka pada pemuluh darah dan jaringan lain mungkin akan menjadi pertimbangan perawat.
Akhirnya tindakan profesional dan melakukan penelitian mengenai AV-Shunt harus terus dilakukan untuk menjadi pedoman dan peningkatan pengetahuan serta pengalaman perawat hemodialisis supaya peran dan fungsi perawat secara umum dapat dilakukan untuk menghindari berbagai komplikasi yang merujuk pada kegagalan AV-Shunt

DISAMPAIKAN DALAM KEGIATAN :
Indonesian Nephrology Nurse Association (PPGII)
MEETING AND SYMPOSIUM 2008

About these ads

2 Comments

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s