PEMAKAIAN ULANG DIALIZER ( REUSE DYALIZER)

PEMAKAIAN ULANG GINJAL BUATAN / DIALIZER

Pemakaian ulang dializer (reuse dializer) adalah suatu tindakan pema-kaian dializer lebih dari satu kali pads pasien yang sama. Tindakan reuse dializer pertama kali dilakukan oleh Shaldon pads tahun 1964, yaitu dengan menyimpan dializer di dalam lemari es sampai dialisis berikutnya. Tehnik reuse dializer selanjutnya berkembang semakin balk sejalan dengan bertambahnya pusat-pusat dialisis yang melaksanakan tindakan reuse dializer ini. Menurut laporan Centers for Disease Control (CDC) of United State tahun 1992, 72 persen pusat dialisis di seluruh Amerika menjalani proses reuse dializer. Sebuah dializer dapat dipakai beberapa kali, hal ini sangat bervariasi tergantung pads keadaan pasien dan unit dialisisnya. Suatu penelitian pads beberapa pusat dialisis, didapatkan kira-kira satu dializer dapat dipakai sampai 13 kali ( Doug, 1996).
Kontroversi tentang pemakaian ulang ini masih terns berkembang, Yosephine Torrente, president of the Association of Disposal Device Manufacturers mengatakan “Until you prove otherwise, these devices are safe and effective for one use. After that, they’re garbage” (Charatan, 1999). Pemikiran tentang keamanan terhadap pasien sebenarnya telah dipikirkan sejak awal, tidak hanya berorientasi pads penghematan biaya dialisis. Hal ini terbukti dengan selalu diperbaikinya teknik reuse dializer. Execitive Committee of the National Kidney Foundation di Amerika selalu melakukan perkembangan tentang tehnik reuse ini dan melaporkannya secara berkala (Agodoa, 1998).

EPIDEMIOLOGI REUSE DIALIZER

Pemakaian reuse dializer dalam dua dekake belakangan terlihat meningkat dengan cepat. Data yang ada di Amerika menyebutkan pads tahun 1983 barn 18% pusat dialisis yang melakukan reuse dializer, meningkat pada tahun 1992 sebanyak 72% atau 78% dari pasien yang menjalani hemodialisis rutin. Reuse dializer dikerjakan berulangkali dengan range 2 sampai 50 kali, rata-rata 14 kali. Kebanyakan reuse dializer dilakukan di klinik-klinik swasta (non hospital based) dengan profit oriented (87%) dibandingkan dengan di rumah sakit pemerintah (31 %). Di negara di luar Amerika reuse dializer belum berkem-bang dengan balk, di Australia pads tahun 1990 hanya 27% , di negara-negara Eropa hanya sekitar 10% bahkan di Jepang tidak dilakukan (Miles and Friedman, 19..)

KONTRAINDIKASI RELATIF TINDAKAN REUSE DIALIZER

Tindakan reuse dializer tidak dapat dikerjakan pads pasien yang mengalami infeksi sistemik termasuk hepatitis akut. Dializer penderita Hepatitis B kronis sebaiknya tidak dilakukan reuse karena sangat berisiko menularkan virus. Tetapi belum ada penelitian yang mengatakan pusat dialisis yang menjalani reuse pads penderita hepatitis B mengalami infekasi virus lebih tinggi dibandingkan dengan pusat dialisis yang tidak reuse. Bahkan CDC di Amerika merekomendasikan untuk reuse dializer pads penderita human ‘immunodefi-ciency virus (HIV) bila dilakukan sesuai prosedur dan dipisahkan dari dializer yang lain (Miles and Freidman, 19..)

TEHNIK PAKAI ULANG (REPROCESSING TECHNIQUES)

Proses ulang dializer setelah dipergunakan pads pasien, ada dua cara yaitu manual atau menggunakan alat otomatis. United States Renal Data System (USRDS) tahun 1996 melaporkan bahwa pusat dialisis yang menjalani reuse, 61,4% memakai alat otomatis, 26% manual dan 12,7% memakai kedua cara tersebut (Schram, 1996).
Prosedur dasar proses ulang dializer ada beberapa tahap, yaitu:
(a) Mengakhiri tindakan dialisis (Termination of hemodialysis)
(b) Pembilasan awal (Pre-rinsing)
(c) Pemeriksaan secara visual (Visual inspection)
(d) Pemberian label dan pengiriman ke tempat reuse
(e) Pembilasan (Rinsing)
(f) Pembersihan (Cleaning)
(g) Pemeriksaan alat (performance testing)
(h) Desinfeksi dan Penyimpanan

Mengakhiri tindakan dialisis & Pembilasan awal

Pada saat mengakhiri hemodialisis, sebaiknya menggunakan heparin secara optimal untuk menghindari kemungkinan terjadinya bekuan pads dializer. Di beberapa pusat dialisis (yang menggunakan air reverse osmosis/RO) dilakukan pre-rinsing, yaitu kompartemen darah dialid air RO selama 8-10 menit atau sampai terlihat bersih.
Pemeriksaan secara visual
Pemeriksaan secara visual untuk melihat adanya bekuan di dalam kapiler.
Bila ditemukan bekuan > 15 kapiler, dializer tidak bisa dipakai lagi / harus dibuang. Diperiksa pula adakah keretakan / kebocoran pads tabung dializer. Setelah pemakaian berulang sexing terjadi tabung berwarna kekuningan atau kecoklatan, bila hal ini terjadi dan mengganggu estetika sebaiknya dializer tersebut dibuang.
Pemberian label dan pengiriman ke tempat reuse
Setelah diberi label, dializer dikirim ke ruang reuse idealnya tidak lebih dari 10 menit. Ruang reuse sebaiknya: a) terpisah dari ruang dialisis. b) mempunyai ventilasi yang baik / dilengkapi exhaust fan. c) bukan tempat lalu lalang pasien maupun petugas.

Pembilasan (Rinsing).

Fase ini dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain air, waktu / lamanya, tekanan air, temperatur dan aliran air yang dipergunakan. Semua air yang masuk kedalam dan kontak dengan kompartemen darah maupun dialisat, harus mempunyai kualitas yang baik yaitu jumlah koloni bakteri < 200 per ml clan pads pemeriksaan Limulus amebocyte lysate (LAL) assay konsentrasi lipopolisakarida bakteri < 1 ng/ml (5 endotoksin unit/ml) (Deane & Beamis, 1981). Kompartemen darah dibilas menggunakan air RO dengan arch aliran arterial ke vena pads tekanan 15-20 psi (atau 3 – 4Umenit). Kompartemen dialisat jugs diisi dengan air RO dan saluran keluar ditutup selama 15 menit. Kemudian kompartemen darah diisi kembali dengan air selama 2 menit dengan tekanan 20 psi, sambil saluran keluarnya diklem sesaat sebanyak 3 kali. Fase ini dapat diulang beberapa kali (Deane & Beamis, 1981).

Pembersihan (cleaning).

Fase pembersihan ini sebagai tindakan tambahan bila pembilasan belum member hasil yang balk. Bahan-bahan yang dipergunakan adalah sodium hypochlorite (bleach), hydrogen peroxide atau Renaline. Bleach dipakai bila terdapat bekuan darah di dalam kapiler dan dikatakan dapat meningkatkan fiber bundle volume dengan cars melarutkan endapan protein. Penggunaan bleach jugs dapat meningkatkan permeabilitas membran (Meri,1999). Hydrogen peroxide dapat menghilangkan warns yang terdapat pads kapiler. Kompartemen darah diisi dengan sodium hypochlorite 1% atau hydrogen peroxide 3% selama 30 – 60 detik. Pemakaian bleach dengan konsentrasi lebih dari 1% dan dalam waktu lebih dari 1 menit, dapat melarutkan lapisan protein pads dinding kapiler sehingga mengurangi biokompatibilitasnya. Konsentrasi bleach lebih dari 2% dan pemakaian lebih dari 10 menit, akan merusak membran dializer dan terjadi kebocoran (Kuwahara, 1989).

Pemeriksaan alai (performance testing)

Pads dializer yang dipakai ulang dapat terjadi penurunan transport solute melalui membran akibat bekuan darah pads kapiler dan adanya endapan protein pads membran, pori-pori membran tersumbat dan permeabilitas membran menurun. Sumbatan pads kapiler dializer ini dapat diketahui dengan mengukur total cell volume (TCV), yaitu volume yang dibutuhkan untuk memenuhi kompartemen darah (fiber bundle volume /FBV dan dialyzer header volume). TCV memperlihatkan jumlah kapiler yang tidak tersumbat, kapiler dializer yang masih berfungsi, dan secara tidak langsung memperlihatkan klirens dan kapasitas transfer solute. Pengukuran TCV mudah dilaksanakan sehingga banyak dipakai untuk memeriksa fungsi dializer reuse. Cara memeriksa TCV adalah kompartemen darah dibilas dengan udara atau, gas nitrogen, cairan yang keluar kemudian diukur. Idealnya TCV diukur sebelum pemakaian pertama sehingga hasilnya dipakai sebagai angka dasar/base line untuk perbandingan pads pemakaian berikutnya. Penurunan TCV sebesar 20% akan menurunkan klirens kreatinin sebesar 4 – 11 %. Bila TCV turun lebih dari 20% maka dializer tersebut tidak dapat dipakai lagi / harus dibuang.

Desinfeksi'dan penyimpanan

Proses desinfeksi dializer reuse memakai bahan kimia germicide untuk mengurangi koloni bakteri. Bila bahan desinfektan dengan konsentrasi yang tepat dan waktu pemakaian yang memadai dapat menghasilkan hasil sterilitas cukup baik atau dapat mengurangi bakteri berspora sampai jumlah yang aman. Desinfeksi tidak adekuat bisa disebabkan oleh karena bahan desinfektan yang dipakai kurang baik, konsentrasi kurang, kontaminasi dari air yang dipakai sebagai pelarut atau terlalu singkat proses desinfeksi. Air yang dipakai sebagai pelarut harus mempunyai koloni bakteri < 200 per ml, dan/atau konsentrasi lipopolisakaride < 1 ng/ml (Miles & Friedman, 19..). Bahan-bahan yang dipakai antara lain: formaldehide, glutaraldehide dan peracetic acid. Formaldehide yang biasa digunakan dengan konsentrasi 2-4% dan disimpan 24 jam pads suhu kamar, jangan kurang dari 2% karena ada beberapa tipe mikobakteria dapat bertahan pads konsentrasi ini dalam suhu kamar. Bila disimpan pads `suhu 40° C selama 24 jam maka konsentrasi 1% dapat digunakan.

KEPUSTAKAAN

Deane. M, Beamis. J, 1981. Multiple Use of Hemodialyzers. Final report to the National Institutes of Arthritis, Diabetes, Digestive and Kidney Disease. No. 1: 53
Kuwahara. T, Market. M, Wauters. J. P. 1989. Biocompatibility aspects of dialyzer reprocessing: a comparison of 3 reuse methods and 3 membranes. Clin Nephrology Vol. 32 : 139.
Meri. K., Scott., Bruce. A. M., Kevin. M. S., William. R. C. 1999. Dialyzer¬Dependent Changes in Solute and Water Permeability With Bleach Reprocessing. American Journal of Kidney Diseases, Vol 33, No. 1: 87

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s