Dukungan Sosial Pasien Hemodialisa

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Penyakit ginjal terminal merupakan tahap akhir dari gangguan fungsi ginjal dimana pasien harus menjalani terapi dialisa selama hidupnya. Bentuk terapi dialisa yang paling sering dilakukan di Indonesia adalah dialisa. Permasalahan yang muncul kemudian menyebabkan perasaan tidak nyaman sehingga individu termotivasi untuk menguranginya. salah satu cara untuk mengurangi stress adalah manfaatkan dukungan sosial.
Ketika dinyatakan harus menjalani hemodialisis mungkin seseorang tidak percaya. Tidak pernah terlintas dalam fikirannya harus menjalani hidup dengan hemodialisis, seseorang yang dulu sehat dan bergairah, rajin olah raga, selalu mengkonsumsi sayur, buah dan banyak minum air putih serta pola hidup yang bersih. Tapi entah kenapa hemodialisis itu tetap harus dijalani. Dikarenakan kondisi fisik yang semakin lemah yang mengharuskan hemodialisis. Kebanyakan pasien hemodialisa pertama kali yang dirasakan hanya pasrah dan merasa kehilangan segalanya, karir, cita-cita, masa depan, tidak ada lagi yang bisa harapkan. Sampai akhirnya berkesimpulan mungkin inilah akhir kehidupannya. Gambaran tersebut adalah yang sering terjadi pada pasien-pasien heemodialisa pada awal-awal tahun mereka menjalaninya. Hemodialisis bukanlah akhir kehidupan, inilah pandangan yang dibutuhkan oleh pasien-pasien yang menjalani hemodialisa agar semangat mereka kembali seperti semula.
Melihat pasien di ruang hemodialisa BLUD Banyumas nampak adanya sebuah motivasi yang sangat besar ketika mereka berada di ruang hemodialisa. Keberadaan mereka bersama orang-orang yang memiliki gangguan kesehatan yang sama serta adanya dukungan kuat dari perawat hemodialisa membuat mereka merasa nyaman berada di ruangan, meskipun mereka secara fisiologis memiliki gangguan ginjal. Mereka memiliki semangat lebih, meskipun secara psikologis (mungkin) ada beberapa hal yang membuat mereka masih belum menerima diagnosa yang ditetapkan oleh dokter. Oleh karenaya, kelompok kami mencoba menganalisa hasil penelitian dengan judul ‘Dukungan Sosial Pada Pasien Gagal Ginjal Terminal Yang Melakukan Terapi Hemodialisa’ hasil karya Arliza Juairiani.

B. Tujuan
Perawat dapat mengaplikasikan cara yang tepat memberikan dukungan sosial kepada pasien yang menjalani hemodialisa dan juga mengaplikasikannya kepada semua klien dengan kondisi apapun sesuai dengan kebutuhan.

BAB II
RESUME JURNAL

A. Latar Belakang
Keadaan ketergantungan pada mesin dialisa seumur hidupnya mengakibatkan terjadinya perubahan dalam kehidupan penderita gagal ginjal terminal yang melakukan terapi hemodialisa. Perubahan hidup penderita gagal ginjal terminal merupakan salah satu pemicu terjadinya stres. Keadaan stress dapat menghasilkan perubahan, baik secara fisiologi maupun psikologis, yang mengakibatkan berkembangnya suatu penyakit. Stress juga secara tidak langsung dapat mempengaruhi kesakitan dengan cara merubah pola perilaku. Hal ini jelas menunjukkan adanya keadaan stres yang memperburuk kondisi kesehatan penderita dan menurunkan kualitas hidupnya. Membutuhkan orang lain untuk menjalankan strategi penghilang stress. Interaksi yang dekat dengan teman atau kerabat akan mendukung keadaan para penderita gagal ginjal terminal untuk lebih baik.

B. Tujuan
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang bagaimana dukungan sosial yang dialami oleh pasien hemodialisa. Gambaran tersebut berguna untuk pengembangan ilmu psikologi dalam kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan penyakit gangguan ginjal.

C. Populasi
Penelitian yang dilaksanakan di beberapa pusat hemodialisa di kota medan (RSUP. H. Adan Malik, RSU. Dr. Pringadi, RSU. Herna, RS Internasional Gleneagles dan RS. Khusus Ginjal dan Hipertensi Rasyida) ini menggunakan dua kelompok sample, 50 orang untuk kelompok sampel hemodialisa dan 50 orang untuk kelompok sampel sumber dukungan sosial. Teknik pengambilan sampel dengan incidental sampling.

D. Metode Penelitian
Subjek penelitian terbagi ked lam 2 kelompok yaitu pasien hemodialisa dan sumber dukungannya sebanyak 50. Adapaun tekhnik pengambilan sampel adalah tekhnik incidental sampling. Alat pengumpul data yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari 2 buah alat yaitu skala sikap dengan tipe Likert dan data kontrol yang digunakan untuk mengumpulkan data-data yang bersifat demografik. Uji validitas menggunakan rumus Pearson Product- Moment Correlation dan uji reabilitas dengan rumus koefisien alpha. Sedangkan uji signifikansi dengan perhitungan t-test.

E. Hasil
Jumlah responden pada penelitian ini berjumlah 50 orang dengan hasil bahwa bentuk dukungan yang berlebihan dan tidak tepat akan menimbulkan stres pada individu dan terakumulasi ke dalam stress yang sedang dialami individu sehingga akan memperburuk keadaan kesehatan. Dukungan sosial yang dibutuhkan pasien hemodialisa berbeda dengan dukungan sosial yang diterima oleh pasien hemodialisa, dimana dukungan yang diterima oleh pasien lebih kecil dari dukungan sosial yang mereka butuhkan. Perbedaan ini terjadi dalam dukungan instrumental, dukungan informasional, emosional dan dukungan dari kelompok sosial lebih khusus lagi dalam hal keringanan biaya, batuan obat-obatan, informasi umum tentang penyakit gagal ginjal terminal, informasi tentang perawatan hemodialisa, hiburan, dikunjungi oleh orang lain, bercerita tentang rasa sakit, dan sedih serta partisipasi dalam kegiatan sosial. Akan tetapi, dalam hal dukungan harga diri, kebutuhan pasien akan kebutuhan positif, pemberian semangat, persetujuan pada pendapat serta perbandingan yang positif dengan individu lain yang dapat membantu individu tersebut membangun harga diri dan kempetensi ternyata dapat dipenuhi oleh sumber dukungan sosialnya melalui nasehat dan kegiatan mengobrol ketika sedang melakukan hemodialisa. Jadi, pasien tidak mendapatkan dukungan sosial yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya.
Kompoisisi jenis kebutuhan yang terbanyak adalah dukungan emosional (5 kebutuhan, 33 % dari total item pertanyaan), sementara yang tersedikit adalah dukungan dari kelompok sosial (1 kebutuhan, 7 % dari totakitem pertanyaan). Hal ini menunjukkan indikasi bahwa pasien hemodialisa membutuhkan dukungan yang bersifat emosional lebih besar daripada bentuk dukungan lainnya, sementara dukungan dari kelompok sosial merupakan satu bentuk dukungan yang paling kurang dibutuhkan.

BAB III
PEMBAHASAN

Secara umum persepsi pasien hemodialisa dan sumber dukungan sosial berbeda dalam menyikapi tentang dukungan sosial yang dibutuhkan oleh pasien hemodialisa. Sumber dukungan sosial memberikan penilaian yang lebih besar tentang dukungan sosial yang dibutuhkan oleh pasien hemodialisa dibandingkan penilaian yang diberikan oleh pasien hemodialisa itu sendiri. Akan tetapi hal ini tidak berarti sumber dukungan sosial akan memberikan dukungan sosial yang lebih besar pula. Dukungan sosial yang diberikan oleh sumber dukungan sosial ternyata lebih sedikit dibandingkan dengan apa yang mereka rasa dibutuhkan oleh pasien hemodialisa.
Keadaan ini menimbulkan masalah lebih lanjut dimana pasien hemodialisa merasa dukungan sosial yang mereka terima tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka akan dukungan sosial. Hal yang menarik adalah dukungan sosial ternyata merasa memberikan dukungan sosial lebih besar daripada yang menurut pasien hemodialisa mereka terima. Hal ini dapat saja terjadi apabila dukungan yang diberikan tersebut ternyata tidak dianggap sebagai sesuatu yang membantu atau dukungan tersebut tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan pasien hemodialisa.
Hasil penelitian dengan judul dukungan sosial pada pasien gagal ginjal terminal yang melakukan terapi hemodialisa merupakan salah satu aspek dari konsep dasar keperawatan yang memiliki fokus pada psikologi manusia. Sebagai seorang perawat dengan fokus asuhan keperawatan yang menyeluruh (bio-psiko-sosil-kultural dan spiritual) membuat kami mengambil jurnal ini. Fokus penelitian adalah pasien hemodialisa di RSUP.H.Adam malik, RSU.Dr.Pirngadi, RSU.Herna, RS Internasional Gleneagles dan RS khusus Ginjal dan Hipertensi Rasyida. Melihat dari judul penelitian tersebut di atas, seharusnya ada penjelasan mengenai tempat pelaksanaan dari penelitian, sehingga siapapun yang membaca judul tersebut tidak menimbulkan pertanyaan mengeni lokasi pelaksanaan, sehingga judul ini terkesan membuat sama akan dukungan sosial yang dibutuhkan oleh semua pasien yang mengalami hemodialisa.
Memasuki pembahasan mengenai isi, bisa langsung kita memahami urutan ide yang akan disampaikan oleh penulis mulai dari keahlian penulis dalam menjelaskan anatomi dan fisiologi ginjal, prognosis pasien hemodialisa, hingga tingkat stress atau ketegangan pasien yang ditimbulkan akibat penyakit yang diderita serta tidak adanya dukungan sosial dari lingkungan sekitar yang membuat pasien terlihat lebih cepat untuk segera mengakiri hidupnya baik dengan cara berhenti untuk terapi ataupun secara langsung mereka mengakiri masa hidupnya akibat tekanan psikis yang semakin hari terasa membuatnya tertekan.
Penulis dalam menuangkan idenya tersusun secara structural mulai dari ginjal yang dimulai dengan anatomi fisiologi hingga gagal ginjal terminal yang merupakan salah satu gangguan ginjal, perawatan pasien dengan gangguan ginjal, penjelasan mengenai salah satu terapi yang dibahas yaitu hemodialisa, stress sebagai efek psikis dari terapi hemodialisa dan penyakit itu sendiri serta dukungan sosial yang diperlukan oleh pasien hemodialisa.
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini seharusnya dapat dijelaskan terlebih dahulu mengenai jumlah populasi dari pasien yang mengalamai hemodialisa dari 6 rumah sakit yang dijadikan tempat penelitian. Sehingga diharapkan dengan mengetahui jumlah populasi yang ada, kita dapat menentukan berapa jumlah sampel yang mendekati angka valid. Hal ini merupakan salah satu kekurangan dari penelitian ini yang dapat berdampak ketidakakuratan hasil peneltian.
Melihat alat ukur yang digunakan klien, maka kita bisa melihat bahwa penelitian ini telah dilakukan uji validitas sehingga berbagai item yang menjadi titik pertanyaan pasien dapat dicerna dan tidak menimbulkan interpretasi ganda dan menimbulkan hasil yang bias.
Membaca bagian pembahasan, kita bisa lebih memahami hasil dari penelitian dengan jelas. Setiap item tujuan penelitian, peneliti menjabarkannya dengan detail sehingga kita bisa memahami interpretasi penelitian lebih jelas.

IMPLIKASI KEPERAWATAN
Seorang perawat memiliki peranan yang sangat penting dalam proses penyembuhan klien. Hal ini dilihat dari waktu perawat yang cukup banyak untuk berinteraksi dengan klien. Terlebih dalam hal memberikan asuhan keperawatan yang menyeluruh. Aspek-aspek menyeluruh tersebut meliputi aspek biopsikososialkultura dan spiritual. Kesemua aspek itulah yang menjadi pokok sasaran perawat dalam menyelesaikan keluhan dan berbagai permasalah klien yang menyebabkan ia masuk rumah sakit.
Begitu juga dengan penderita gagal ginjal terminal. Klien dengan gagal ginjal terminal memiliki tingkat pemicu terjadinya stress yang sangat tinggi. Keadaan stress dapat menghasilkan perubahan, baik secara fisiologi maupun psikologis, yang mengakibatkan berkembangnya suatu penyakit. Stress juga secara tidak langsung dapat mempengaruhi kesakitan dengan cara merubah pola perilaku.
Ada beberapa strategi mengatasi stress bagi penderita yang mengalami gangguan kesehatan:
1. Mengingkari atau meminimalisir keseriusan situasi
2. Mempertahankan kebiasaan rutin sebisa mungkin
3. Memperkirakan kejadian stress yang mungkin muncul di masa mendatang
4. Mencoba memilki pandangan baru tentang masalah kesehatan dan perawatannya dengan menemukan tujuan jangka panjang
5. Mencari informasi tentang masalah kesehatan kesehatan dan prosedur perawatannya
6. Mencari dukungan instrumental dan emosional keluarga, teman, dan praktisi kesehatan yang terlibat dengan menunjukan kebutuhan dan perasaan.
Hal ini didukung dengan beberapa penelitian yang menunjukan bahwa interaksi yang dekat dengan teman atau kerabat dapat menghindari penyakit dan mempercepat kesembuhan bagi yang sedang menjalani proses penyembuhan. Dengan melihat fakta yang ada, maka dukungan sosial merupakan hal perlu dilakukan oleh kita sebagai perawat, karena dapat mempengaruhi kesembuhan pasien.
Secara garis besar dukungan sosial dapat dikelompokkan menjadi lima bentuk:
1. Dukungan instrumental, yaitu pemberian dukungan melalui materi. Dukungan ini dapat membantu memecahkan masalah yang berhubungan dengan materi. Misalnya peminjaman uang ataupun barang.
2. Dukungan informasional, yaitu pemberian dukungan melalui pemberian informasi ataupun saran. Dukungan ini dapat membantu untuk mengenali dan memecahkan masalah lebih mudah.
3. Dukungan emosional, yaitu pemberian dukungan melalui pemberian rasa nyaman, keyakinan, kepedulian dan kecintaan yang dapat mempermudah dalam mengatasi masalah.
4. Dukungan harga diri, yaitu penberian dukungan melalui penghargaan positif dan semangat serta persetujuan pendapat dalam mengatasi masalah.
5. Dukungan dari kelompok sosial, yaitu dukungan sosial yang dapat diberikan dengan menjadi anggota kelompok yang memiliki aktivitas dan minat yang sama, sehingga dapat timbul perasaan memiliki teman senasib.
Bentuk dukungan tergantung pada keadaan yang membuatnya stress. Misalnya pada penderita kanker, dukungan sosial yang bisa kita berikan adalah dukungan emosional dan harga diri. Dukungan sosial tidak selalu dapat mempercepat kesembuhan pasien, akan tetapi dukungan sosial yang tidak tepat justru dapat menimbulkan stress baru atau memperburuk keadaan. Oleh karena itu dukungan sosial yang tepat bagi pasien hemodialisa dilihat dari 2 sudut pandang, yaitu pasien dan sumber dukungan sosialnya.
Sebenarnya dukungan sosial yang dibutuhkan oleh pasien hemodilaisa sangat banyak, baik informasional, instrumental ataupun yang lainnya. Akan tetapi hasil dari penelitian menunjukan bahwa dukungan emosional jauh lebih dibutuhkan oleh paien hemodialisa. Karena pemberian dukungan melalui pemberian rasa nyaman, keyakinan, kepedulian dan kecintaan yang dapat mempermudah dalam mengatasi masalah. Dengan adanya penyemangat hidup dan kepedulian yang begitu besar dapat membuat pasien merasa lebih nyaman dan lebih merasa hidupnya lebih berarti karena meskipun pasien selama hidupnya tergantung pada mesin dialisa. Pasien dapat bertahan hidup dan mempunyai semangat hidup untuk orang-orang yang dicintai ataupun yang mencintainya serta yang memperdulikannya, sehingga timbul gairah atau semangat untuk tetap hidup.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Dukungan sosial dibutuhkan oleh pasien hemodialisa, khususnya dukungan emosional
2. Dukungan sosial yang diterima pasien hemodialisa lebih kecil daripada dukungan sosial yang diharapkan pasien.
3. Dukungan social yang diberikan kepada pasien harus tepat dengan kebutuhan pasien.
B. Saran
Dukungan sosial diharapkan dapat diterapkan oleh semua perawat kepada semua kondisi klien dengan harapan adanya motivasi untuk sembuh bagi klien, terutama pasien dengan gangguan kesehatan yang kritis.

Daftar Pustaka

Ikaristi, S, 2003, Kepatuhan Diet dan Kualitas Hidup penderita gagal ginjal Kronik yang dilakukan terapi Hemodialisa di Rumah sakit Panti Rapih, Skripsi, PSIK Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta.
Lubis, A.J.2006. Dukungan social pada pasien gagal ginjal terminal yang melakukan terapi hemodialisa. USU: Sumatra Utara.
Niven, N. 2002. Psikologi Kesehatan, Edisi II. Buku Kedokteran EGC: Jakarta.
Notoatmodjo S. 2002. Metode Penelitian Kesehatan. Rhineka Cipta: Jakarta.
Notoatmodjo, S. 1985. Pengantar ilmu perilaku Kesehatan, Badan Penerbit Kesehatan Masyasrakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia: Jakarta.
Sidabutar.1983. Gagal ginjal Kronik: Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II. Buku Kedokteran, EGC: Jakarta.
Susalit, E.2003. Gagal Ginjal Kronik. Simposium Nasional Keperawatan Ginjal dan Hipertensi, Audotorium RSPAD Gatot Subroto: Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s