Terapi Cairan Maintenance

Pendahuluan

Terapi cairan merupakan salah sati implementasi untuk menjaga, mengembalikan keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Ketepatan dan keakuratan dalam terapi cairan akan sangat berpengaruh terhadap kondisi tubuh. Hal ini yang sedikit banyak sering kita melupakannya.
Terapi cairan Maintenance bisa dianggap sebagai salah satu terapi pendukung yang penting bagi pasien rawat-inap. Jika tujuan terapi cairan resusitasi adalah memperbaiki gangguan hemodinamik, maka tujuan terapi cairan Maintenance adalah memelihara homeostasis pada pasien yang kurang asupan cairan per oral. Jadi, laju dan jenis cairan infus untuk kedua indikasi itu berbeda. Untuk resusitasi digunakan “cairan pengganti” seperti normal saline, ringer asetat/ringerlaktat yang bersifat isotonik. Diberikan dengan jumlah besar dan kecepatan tinggi (20 -30 ml/kg/jam) cairan ini digunakan pada keadaan emergensi untuk menggantikan kehilangan akut..Pada keadaan-keadaan tertentu, cairan pengganti bisa juga digunakan untuk Maintenance, khususnya jika didapatkan hiponatremia (kadar Na+ < 135 mmol/L). Untuk pasien-pasien yang hemodinamiknya masih bagus (tidak syok), cairan yang dipilih adalah cairan Maintenance (maintenance).

Berbagai keadaan bisa dialami oleh pasien rawat-inap dan ini sering tidak disadari oleh petugas kesehatan:
• Mayoritas pasien sudah berada dalam keadaan dehidrasi moderat, namun hemodinamik masih baik. Pasien mungkin sudah berhari-hari di rumah dengan asupan air yang kurang dan ada demam tinggi. Demam tinggi ini menyebabkan peningkatan insensible water loss.
• Cemas, depresi atau takut. Ini cenderung terjadi pada pasien-pasien yang sudah mencoba berobat ke sana kemari dan tidak kunjung sembuh.
• Malaise atau letih (fatigue) mungkin merupakan alsan pasien dibawa ke rumah sakit.
• Pasien tidak terbiasa dengan makanan rumah sakit
• Asupan oral kurang karena pasien terlalu lemah untuk mengunyah dan lidah terasa pahit karena kering
• Jam makan yang kaku
• Anorexia (tidak napsu makan), nausea (mual), atau stres
• Kesadaran menurun.
Informasi demikian sering luput dari pengamatan dokter, padahal pasien memerlukan dukungan meintenance untuk keadaan-keadaan tsb.
Tujuan terapi Maintenance bisa dirangkum sbb:
1. Memenuhi kebutuhan air dan elektrolit harian untuk homeostasis
2. Mencegah gangguan elektrolit dan asam-basa
3. Mendukung terapi primer
4. Membantu proses enzimatik &mp; sintesis protein.
5. Memacu penyembuhan
Apa ciri-ciri larutan maintenance yang unggul?
• Praktis, mudah dan aman diberikan
• Di samping elektrolit basal (Na+,K+,Cl-) juga mengandung mikromineral (Mg++,Ca++,P) yang dibutuhkan untuk metabolisme sel
• Adanya zinc membantu penyembuhan jaringan. Karena zinc memacu deposisi kolagen pada jaringan yang rusak
• Mengandung asam amino kualitas tinggi (diperkaya BCAA, tinggi EAA) untuk memacu sintesis protein
• Glukosa untuk mempertahankan kadar gula normal( euglycemia)

Cara Pemberian Terapi Cairan Maintenance
Tempat kanula: laerutan yang mengandung osmolaritas kurang dari 900 mOsm/L bisa diberikan melalui vena tepi. Namun sebaiknya dipilih vena yang lebih proksimal (basilica,cephalic atau median cubital) karena tingginya insiden flebitis jika digunakan vena punggung tangan. Pasien usia lanjut lebih rentan terhadap flebitis dibandingkan dewasa muda.
Laju pemberian umumnya 20 tetes per menit (drip makro). Namun perlu diperhatikan kandungan glukosa dan kalium dari setiap larutan infus. Pada dewasa laju maksimum pemberian glukosa adalah 4 g/kg/minute (9), dan kalium 10 mEq per jam. Walaupun anjuran asupan kalium harian adalah 1-2 mEq/kg, dosis maintenance minimum dewasa untuk homeostasis bisa dipenuhi dengan 20-30 mEq hari. (10)
Obat suntik tidak boleh dioplos ke dalam AMINOFLUID karena bisa meningkatkan osmolaritas dan mengganggu kestabilan komposisi. Bila dianggap perlu, obat suntik bisa diberikan dengan piggy bag (untuk drip kontinyu) atau via stop cork (jika bolus) sementara aliran infus primer dihentikan.

Monitoring adalah hal terpenting dalam terapi cairan MAINTENANCE. Bila tersedia fasilitas lab, idealnya diperiksa panel elektrolit dan metabolik (Na+,K+,Cl-,HCO3 -, BUN, glucose, creatinine) (11) sebelum memberikan cairan. Pada kasus yang cukup serius atau berat paling tidak harus diperiksa Na+ dan K+. Tidak sesuai untuk memberikan cairan natrium rendah (hipotonik) ke pasien dengan hiponatremia (1). Di lain pihak, tidak tepat jika cairan dengan natrium tinggi (misal NS) diberikan kepada pasien dengan hipernatremia (12). Bilamana perlu, larutan Maintenance bisa digabung dengan larutan pengganti (Asering, RL, Normal saline) atau produk nutrisi parenteral.
Hipokalemia banyak dijumpai pada pasien rawatinap dan bisa dicegah. Pentingnya kalium terungkap dari laporan tentang prevalensi hipokalemia di bebebrapa rumah sakit, di mana pasien-pasien hanya diberikan larutan pengganti selama perawatan. Larutan pengganti mengandung 4 mEq/L of K+ (Ringer's lactate) or 0 mEq of K+ (Normal Saline) Hiperkalemia bisa diinduksi dan atau diperberat jika larutan yang mengandung kalium diberikan kepada pasien oliguria (vol urine < 400 ml/24 jam) atau anuria (<100 ml/24 jam).

KESIMPULAN
• Terapi suportif yang baik akan memacu penyembuhan pasien
• Terapi cairan Maintenance telah mengalami evolusi dari sekedar memberikan air dan elektrolit basal dalam kemasan tunggal, menjadi formulasi praktis, lengkap dengan elektrolit,asam,amino,glukosa dan mikromineral dalam kemasan canggih dual-chamber
• Tujuan terpenting dari terapi cairan Maintenance adalah mengoreksi homeostasis, memperbaiki KU, melawan letih dan meningkatkan napsu makan, serta memacu penyembuhan
• Peranan BCAA (Leucine, Isoleucine dan Valine) semakin banyak diketahui
• Temuan terakhir mengesankan bahwa BCAA bisa meningkatkan napsu makan dan memacu sintesis protein di otot rangka
• AMINOFLUID tidak ditujukan untuk replesi energi dan protein
• AMINOFLUID adalah larutan Maintenance masa kini, bukan produk nutrisi parenteral atau hypocaloric feeding. Bila dipandang perlu AMINOFLUID bisa dikombinasi dengan larutan elektrolit lain (RA, RL, NS, KAEN) atau produk nutrisi parenteral.
Rujukan:
1. Shafiee M.A.S., Bohn D, Hoorn EJ and Halperin ML. How to select optimal maintenance intravenous fluid therapy. Q J Med 2003; 96: 601- 610
2. ASPEN Board of Directors and the Clinical Guidelines Task Force. Guidelines for the use of parenteral and enteral nutrition in adult and pediatric patients. JPEN Vol 26, No1 Suppl Jan-Feb 2002.
3. Lee, Carla A.B. Fluids and Electrolytes: a practical approach. 4 ed. FA Davis Philadelphia.
4. Alessandro Laviano; Michael M Meguid; Akio Inui; Maurizio Muscaritoli; Filippo Rossi-Fanelli. Therapy Insight: Cancer Anorexia?Cachexia Syndrome-When All You Can Eat Is Yourself. Nat Clin Pract Oncol. 2005;2(3):158-165.
5. Rossi-Fanelli et al. Branched Chain Amino Acids: The best compromise to achieve anabolism. Curr Opin Clin Nutr Metab Care 8:408-414. 2005 Lippincott Williams &mp; Wilkins.
6. Jean-Pascal De Bandt and Luc Cynober Therapeutic Use of Branched-Chain Amino Acids in Burn, Trauma, and Sepsis.J. Nutr. 2006 136: 308S-313S
7. Samuel N. Cheuvront, Robert Carter, III, Margaret A. Kolka, Harris R. Lieberman, Mark D. Kellogg, and Michael N. Sawka.Branched-chain amino acid supplementation and human performance when hypohydrated in the heat J Appl Physiol, Oct 2004; 97: 1275 – 1282.
8. Calder PC. Branched-chain amino acids and immunity.J Nutr. 2006 Jan;136(1 Suppl
9. Mizock BA, Troglia S. Nutritional support of the hospitalized patient. Mosby Vol 53, No 6, 1997, p 367
10. Tannen RL. Potassium Disorders. In Kokko &mp; Tannen : Fluids and Electrolytes. 3rd Edition WB Saunders 1996. p 114
11. Mark Graber. Terapi Cairan, Elektrolit dan Metabolik. Farmedia, 2003. p 95
12. Fiona REID*, Dileep N. LOBO*, Robert N. WILLIAMS*, Brian J. ROWLANDS* and Simon P. ALLISON†(Ab)normal saline and physiological Hartmann's solution: a randomized doubleblind crossover study.Clinical Science (2003) 104, (17–24)
13. Sudomo, Untung. Marissa Ira. Gastroenterogy hepatoloy and digestive endoscopy vol.5. Ed: Dec 2004. Page: 115-120
14. Widodo D, Setiawan B, Khie Chen. The prevalence of hypokalemia in hospitalized patients with infectious diseases problems at Ciptomangun- kusumo Hospital Jakarta. Acta Med Indonesia, 2006;38(4):202-5
15. Medika 2006 Vol XXXII,No 12, p 732-734 * Dibacakan pada Simposium Nasional Penyakit Tropik Infeksi, HIV &mp; AIDS, J W Marriott Hotel, Surabaya 22 Maret 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s