Gangguan Seksual

Gangguan Seksual
a. Disfungsi seksual merupakan kondisi di mana fungsi seksual dalam tubuh seseorang sudah mulai melemah. Kondisi itu dapat terjadi ketika kita masih muda, maupun pada usia lanjut karena kondisi fisik dan mental yang semakin berkurang. Kondisi disfungsi seksual dapat terjadi pada pria maupun wanita.
Kolodny, Master, dan Johnson (1979), membagi disfungsi seksual pada
pria atas 2 kategori, yaitu kelemahan ereksi (disorders of erection)
dan gangguan ejakulasi (disturbances of ejaculation).
1) Kelemahan ereksi (disorders of erection)
Yang termasuk dalam kelemahan ereksi adalah impoten. Impoten
adalah ketidakmampuan untuk mendapatkan atau mempertahankan suatu ereksi yang cukup keras untuk melakukan senggama, untuk memulai, dan menyelesaikannya. Impoten dapat diklasifikasikan sebagai impotent primer atau sekunder. Pria dengan impotensi primer tidak pernah mampu melakukan senggama, sedangkan pria dengan impotensi sekunder mengalami disfungsi ereksi setelah sebelumnya mempunyai fungsi seksual yang normal. Ada 2 macam impoten, yaitu organik dan psikogenik. Kurang lebih 10–15% dari laki-laki penderita impotensi, tampaknya mempunyai penyebab utama organik. Penyebab organik yang sering dijumpai adalah
kelainan anatomik, kelainan kardiovaskuler, akibat obat-obatan,
endokrin, saluran kemih dan alat kelamin, hematologik, penyakit
infeksi, neurologik, vaskuler, dll. Gangguan fungsi ereksi yang
terjadi sebagai akibat dari penyebab fisik atau metabolik, dapat
diikuti oleh perubahan psikologik dan perilaku yang berkembang menurut
waktu sebagai reaksi terhadap kelainan tersebut. Misalnya, perubahan tersebut dapat mempengaruhi fungsi seksual. Karena itu, walaupun penyebab primer organik dapat diketahui dan berhasil diobati, kesulitan seksual mungkin masih menetap sebagai akibat gangguan psikogenik tersebut. Hal serupa terjadi, walaupun 85–90% pasien impotensi muncul dengan penyebab primer psikogenik untuk disfungsi seksualnya, faktor fisik dan metabolik dapat berperan sebagai penyulit.
2) Gangguan ejakulasi (disturbances of ejaculation)
Yang termasuk dalam gangguan ejakulasi adalah ejakulasi dini
(prematur ejaculation). Walaupun ejakulasi dini merupakan disfungsi seksual yang sering dikeluhkan, tidak ada definisi yang memuaskan secara klinis. Sebagian disebabkan oleh waktu relatif alamiah untuk ejakulasi dalam hubungannya dengan siklus respons seksual perempuan. Jika ejakulasi laki-laki yang cepat membatasi siklus respons seksual istrinya untuk mencapai gairah seks yang tinggi atau orgasme, maka situasi tersebut dapat dianggap sebagai ejakulasi dini. Walaupun demikian, pada sejumlah pasangan ejakulasi dini ini tidak menghalangi istri melakukan senggama. Faktor subjektif yang mempengaruhi penilaian lama waktu seorang laki-laki untuk senggama tanpa ejakulasi adalah faktor sosial-budaya dan kepribadian. Kinsey, Pomeroy, dan Martin melaporkan 75% dari laki-laki yang diteliti, ejakulasi terjadi dalam waktu 2 menit setelah masuk liang senggama (vagina). Beberapa kasus ejakulasi dini yang jelas agak mudah didiagnosa karena ejakulasi terjadi sebelum, sedang, atau segera setelah penis masuk ke dalam vagina.
Karena ejakulasi adalah refleks yang diatur oleh alur neurologik
dan mungkin alur endokrin, tidak didapat data yang cukup tentang
penyebab dari ejakulasi dini. Pengalaman pertama dengan ejakulasi yang cepat mungkin dapat mempengaruhi kemampuan pria menahan ejakulasinya. Penyakit atau peradangan pada prostat atau saluran kemih-kelamin
(Kolodny, Master, Johnson, 1979).
American Psychological Association (APA) membagi problem sexual wanita sebagai berikut:
– Gangguan Mental – hilangnya keinginan/birahi dan gairah.
– Ketidaknyamanan dalam melakukan hubungan sexual
– Berkurangnya aliran darah ke vagina
– Trauma dan menghindari hubungan sex
– Tidak dapat mencapai orgasme
b. Faktor risiko untuk disfungsi seksual
Faktor risiko umum untuk disfungsi ereksi pada pria meliputi:
1) Lanjut usia
2) Penyakit kardiovaskular

3) Diabetes mellitus

4) Tinggi kolesterol

5) Merokok

6) Pengguna narkoba

7) Depresi atau penyakit psikiatris lainnya

Penyebab disfungsi seksual perempuan didefinisikan kurang jelas. Alasan akan hal ini mungkin karena hubungan atau stimulasi seksual adalah suatu tindakan yang melibatkan banyak sistem untuk berfungsi secara harmonis agar dicapai tahap orgasme. Untuk menyederhanakan pemahamannya ada baiknya dibagi-bagi tergantung pada sistem yang dominan dalam disfungsi. Kadang-kadang bisa lebih dari satu faktor menyebabkan disfungsi. Di bawah ini adalah beberapa penyebab yang bisa menyebabkan disfungsi seksual.
Yang pertama didaftarkan adalah yang paling umum :
– Alkohol
– Ansietas
– Depresi – hubungan yang tidak bahagia atau kekerasan (saat ini atau di masa sebelumnya) juga bisa menimbulkan masalah seksual.
– Masalah emosional; beralih perhatian
– Penyakit
– Persepsi tubuh negatip
– Stres – stres kehidupan sehari-hari bisa mempengaruhi kemampuan anda berhubungan seks. Lelah karena pekerjaan yang sibuk atau merawat anak-anak kecil bisa menjadikan anda merasakan lebih sedikit hasrat untuk melakukan hubungan seks.

Afriani, I. 2009. Metode Penelitian Kualitatif. Tersedia pada : http://www.blogkatalog.com. (diakses 20 Oktober 2009).
Aikesari. 2009. Konsep Diri Perkembangan dan Pengaruhnya Terhadap Pencapain Akademik Siswa Serta Upaya Pembentukan Konsep di RI Berbasis Aktivitas Pembelajaran. Tersedia pada: http://aikesari.multiply.com/journal/item/28/ (diakses 28 Oktober 2009).
Andirahman. 2009. Gagal Ginjal Kronis. Tersedia pada : http://add-articles.com/article.php?id=283175&act=print (diakses 3 November 2009).
Arnold, R. M. and Zeidel, M. L. 2009. Dyalisis in Frail Elders – A Role for palliative Care. Tersedia pada : http://content.nejm.org/cgi/reprint/361/16/1597.pdf (diakses 22 Oktober 2009).
Auliya. 2006. Hubungan Antara Health Locus Of Control dan Tingkat Depresi Pada Pasien Gagal Ginjal Kronis Di RS. NY. R.A. Habibie Bandung. Tersedia pada: http://www.akademik.unsri.ac.id/download/journal/files/padresources/PENELITIAN%20AULIA-2.pdf. (diakses tanggal 23 Oktober 2009)
Barton, J. W. 2004. Six Steps to Assesing Crhonic Renal Failure. Tersedia Pada: http://www.stacommunications.com/journals/cme/2004/November/Pdf/095.pdf. (diakses 1 November 2009).
Budiyanto, C. 2009. Hubungan Hipertensi dan Diabetes Mellitus terhadap Gagal Ginjal Kronik. Tersedia pada: http://ackogtg.wordpress.com. (diakses 3 November 2009).
Creswell, J. W. 1998. Qualitative Inquiry and Research Design Choosing Among Five Traditions. California : Stage Publication.
Ganong, W. F. (1998). Buku ajar: Fisiologi kedokteran. Edisi 17. Jakarta: EGC.
Guyton, A. C. & Hall, J. E. (1997). Buku ajar: Fisiologi kedokteran. Edisi 9. Jakarta: EGC.
Indonesian Nurse. 2008. Terapi Hemodialisa dan Transplantasi. Tersedia pada : http://indonesiannursing.com. (diakses 30 Oktober 2009).
Irmawati. 2009. Hubungan Antara Konsep diri dengan Perilaku Melayani Pada Perawat di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah “Roemani” Semarang. Tersedia pada: http://etd.eprints.ums.ac.id/3777/. (diakses 13 November 2009).
Lubis, A. J. 2006. Dukungan Sosial pada Pasien Gagal Ginjal Terminal yang Melakukan Hemodialisa. Tersedia pada : http://library.usu.ac.id. (diakses 16 November 2009).
Mansjoer, A., Triyanti, K., Savitri, Rakhmi., Wardhani, W.,& Setiowulan, W. 1999. Kapita Selekta Kedokteran (edisi ketiga). Media Aesculapius FKUI 2001. Jakarta.
Moleong. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nasser kurnia. 2009. Penduduk Indonesia Menderita Penyakit Ginjal Kronis. Tersedia pada: http://kusnianasser.multiply.com/journal/item/12/62. (diakses 13 November 2009).
Nita. 2008. Gaya Hidup Sehat, Kunci Atasi Komplikasi Gagal Ginjal. Tersedia pada: http://medicastore.com/index.php?mod=seminar&id=56. (diakses 13 November 2009)
Pardade, S. O., Dwi Putro Widadari. H. A. Taralan Tambunani. 2002. Gambaran EEG Pada Anak dengan Gagal Ginjal Kronis. Tersedia pada: http://digilib.litbang.depkes.go.id/files/disk1/21/jkpkbppk-gdl-grey-2002 sudung-1019-ginjal-vol30-2-4.pdf. (diakses 13 November 2009)
Potter, P.A. & Perry, A.G. (2005). Fundamental keperawatan: Konsep, proses, dan praktik. Edisi 4. Jakarta: EGC.
Price, S. A., & Lorraine M. C. Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis dan Proses – Proses Penyakit. EGC. Jakarta.
Salbiyah. 2008. Konsep Diri. Tersedia Pada: http://duniapsikologi.dagdigdug.com/files/2008/12/konsep-diri.pdf. (diakses 15 November 2009)
Santoso, Djoko. 2008. Gagal Ginjal Kronis. Tersedia Pada: http://askep-ners.blogspot.com/2009/02/. (diakses 21 November 2009)
Santoso, Djoko dan Sutomo. 2009. Kasus Gagal Ginjal di Indonesia Tinngi. Tersedia Pada: http://www.lintasberita.com/Nasional/Berita-Lokal/. (diakses 11 November 2009)
Stewart, Merry. 2006. Narrative Literature Review Sexual Dysfunction in the patient On Hemodialysis. Neprhology Nursing Journal 33 (6): 631-633.
Sugiyono. 2008. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta
Tisher, C. C. & Wilcox, C. S. (1997). Buku saku nefrologi. Edisi 3. Jakarta: EGC.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s