Pelayanan Hemodialisa dengan INOS

REKOMENDASI UMUM

1.Pasien baru atau pasien pindah ke / dating dari pusat HD lain harus dilakukan pemeriksaan HBsAg, anti HCV dan anti HIV.
2.Pasien dengan HbsAg dan anti HCV negative, pemeriksaan diulang kembali setiap 6 bulan.
3.Pemeriksaan HIV pada pasien HD lama hanya dilakukan bila ada kecurigaan menderita penyakit HIV.

REKOMENDASI KHUSUS

4.Pasien dengan HBsAg negative, dilakukan vaksinasi untuk virus hepatitis B.
5.Pasien dengan HBsAg positif :
-Ditempatkan di ruang isolasi
-Harus memakai mesin hemodialisis yang dikhususkan.
-Tidak diperkenankan memakai dializer ulang.
-Pengobatan nucleoside ( Lamivudine ) selama satu tahun pada pasien dengan SGPT meningkat dan kadar darah HBV DNA ≥ 105 kopi/ml.
6.Pasien dengan anti HCV positif :
-Tidak memerlukan ruang isolasi
-Tidak perlu memakai mesin hemodialisa yang dikhususkan
-Dapat memakai dializer proses ulang
-Lakukan pemeriksaan HCV RNA
-Pengobatan Interferron dapat diberikan bila HCV RNA Positif.
7.Pasien dengan tes HIV positif, dilanjutkan dengan pemeriksaan Western blot untuk menghindarkan hasil poritif palsu.
8.Pasien tes HIV dengan enzyme immunoassay ( EIA ) serta Western blot positif :
-Tidak perlu memakai mesin khusus
-Dapat memakai dializer proses ulang
-Tidak memerlukan ruang isolasi
-Pengobatan untuk HIV perlu diberikan.

Rujukan :
Transmisi hepatitis B pada pasien HD tinggi bila banyak pasien yang HBsAg positif atau kurang dari 50 % jumlah pasien HD tidak dilakukan imunisasi hepatitis B. Pasien HD yang mendapatkan imunisasi hepatitis B akan mendapatkan proteksi lebih dari 70 % disbanding yang tidak mendapat imunisasi.

Pada infeksi akut hepatitis B. HBsAg akan terdeteksi pada minggu 1 – 10 . Seetelah pemulihan, HBsAg akan tidak terdeteksi dalam 4 – 6 bulan. Bila tetap ada setelah 6 bulan, pasoien dianggap mengidap hepatitis B kronik.

Pasien HD dengan HBsAg negative sebaiknya dilakukan pengulangan pemeriksaan setiasp 6 bulan.

Penyebaran VHB di ruang HD akan berkurang bila dilakukan isolasi ruangan tempat HD ( pasien dan mesin ) serta dilakukan standar pencegahan universal precaution yang ketat.

VHB akan tetap ada pada permukaan benda yang terpercik darah dalam jumlah 10 – 10 virion infeksius ml. walaupun bercak darahnya sudah tidak terlihat. VHB tersebut relative stabil dan tetap infeksius selama 7 hari pada suhu kamar di permukaan . oleh karena isolasi mutlak dilakukan dan dianjurkan tidak menggunakan dializer proses ulang pada pasien infeksi dengan VHB.

Pengobatan pasien VHB positif dengan pemberian analog nucleoside (Lamivudine) pada pasien HD dapat memberikan hasil yang memuaskan. Replikasi virus dapat ditekan dan kadar SGPT mennjadi normal pada 80 % pasien.

Penyaringan terhadap VHC pada pasien yang akan masuk atau sedang menjalani program HD dapat dilakukan dengan 3 cara :
-Penyaringan biokimia, dengan memeriksa SGPT
-Penyaringan serologi, dengan memeriksa anti HCV dengan ELISA
-Penyaringan virology dengan pemeriksaan PCR ( HCV RNA ).

Sammy Saab dkk melaporkan penelitian mereka secara kohort pada 5000 pasien HD dengan pemantauan selama 5 tahun berkesimpulan bahwa penyaringan serologi merupakan pendekatan yang terbaik dengan biaya lebih murah dan lebih efektif disbanding dengan penyaringan bviokimia. Penyaringan biokimia dilakukan dengan pemeriksaan SGPT setiap bulan, bila SGPT normal. Dengan penyaringan serologi, pemeriksaan anti HCV ELISA dilakukan setiap 6 bulan bagi mereka yang negative.

Pasien anti HCV positif, untuk menyingkirkan kemungkinan positif palsu, dikonfirmasikan dengan pemeriksaan strip immunoblot assay (SIA).

Hasil positif palsu pemeriksaan tes HIV lebih sering terjadi pada pasien dalam HD ( 4 % – 8,8 % ). Konfirmasi dengan tes Western blot perlu dilakukan bila tes HIV dengan ELA positif.

Penelitian yang dilakukan oleh Nicola Froio dkk, pada 3 unit dialysis untuk mendeteksi peran lingkungan dan mesin HD dalam transmisi hepatitis B dan hepatitis C, mendapatkan 1 dari 64 sampel positif HBsAg diperoleh pada mesin yang dikhususkan untuk pasien HBsAg positif dan 1 dari 64 sampel yang positif HCV RNA diperoleh pada bagian luar konektor cairan dialisat dari mesin yang dipakai oleh pasien dengan anti HCV negative. Hal ini menunjukan bahwa hanya factor di luar mesin sebagai perantara transmisi kuman hepatitis C bukan oleh karena mesin yang dipakai oleh pasien anti HCV positif. Mereka menyimpulkan bahwa tidak ada alas an bagi pengidap hepatitis C harus memakai mesin yang khusus.

Universal precaution yang ketat dapat mencegah transmisi hepatitis C di unit dialysis yang tidak memakai mesin yang dikhususkan dan tidak ada isolasi khusus untuk pasien dengan anti HCV positif. Hal ini terbukti dari hasil penelitian multisenter di Belgia dengan pemantauan 54 bulan meliputi 963 pasien dari 15 unit HD.

Laporan dari Belgia, Portuguese Society of Nephrology dan Afrika Selatan menunjukan pemakaian dializer proses ulang pada pasien dengan anti HCV positif tidak menjadi sumber transmisi hepatitis C bila perlakuan proses ulang dilakukan pada ruang yang terpisah antara anti HCV positif dengan anti HCV negative.

Angka kematian lebih tinggi pada pasien penyakit ginjal terminal dengan hepatitis C dibandingkan dengan yang tidak dengan hepatitis C. disarankan untuk memberikan pengobatan pada pasien penyakit ginjal terminal dengan hepatitis C.

Sumber :
Konsensus PERNEFRI 2006

PERNEFRI. 2006. Rekomendasi Pengendalian Infeksi Virus Hepatitis B, Virus Hepatitis C, dan HIV pada Unit Hemodialisis di Indonesia. Jakarta. Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s