HIPERTENSI

Penderita hipertensi di Amerika Serikat saat ini mencapai kurang lebih 50 juta orang dan di seluruh dunia jumlahnya mencapai hampir 1 miliar orang. Data dari Framingham Heart Study menunjukkan pada individual dengan normotensi, saat berusia 55 tahun sembilan puluh persen (90%) diantaranya mempunyai risiko terjadi hipertensi (Chobanian et al., 2003).

Hipertensi merupakan masalah kesehatan di dunia karena menjadi faktor risiko utama dari penyakit kardiovaskuler dan stroke. Insidensi hipertensi di Amerika Serikat mencapai 29-31% atau sama dengan 58 sampai 65 juta pada populasi di atas 18 tahun (Fields et al., 2004). Diperkirakan bahwa jumlah penderita hipertensi akan terus bertambah seiring dengan bertambahnya populasi geriatri dan peningkatan insidensi obesitas (Kaplan, 2006).

Definisi hipertensi saat ini adalah menggunakan definisi yang dikemukakan dalam laporan Joint National Committee ke-7 (JNC 7). Dengan pengukuran tekanan darah dilakukan 2 kali atau lebih pada 2 kunjungan atau lebih yang berbeda, maka tekanan darah diklasifikasikan sebagai berikut: (1). Tekanan darah normal atau normotensi adalah tekanan sistolik kurang dari 120 mmHg dan diastolik kurang dari 80 mmHg; (2). Prehypertension adalah tekanan sistolik 120-139 mmHg atau diastolik 80-89 mmHg; (3). Hipertensi: stage 1 adalah tekanan darah sistolik 140-159 mmHg atau diastolik 90-99 mmHg; stage 2 adalah tekanan darah sistolik lebih dari atau sama dengan 160 mmHg atau diastolik lebih dari atau sama dengan 100 mmHg (Chobanian et al., 2003).

Dimasukkannya kriteria pre-hipertensi menunjukkan adanya hubungan positif antara risiko kejadian kardiovaskuler fatal dan tingginya tekanan darah, yaitu terjadi peningkatan insidensi kejadian kardiovaskuler fatal seiring dengan peningkatan tekanan darah. Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dibagi atas: (1).Hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya, disebut hipertensi primer atau hipertensi esensial, yang merupakan sebagian besar hipertensi (95%), (2).Hipertensi yang diketahui penyebabnya atau hipertensi sekunder (5%) (Braunwald et al., 2001).

Hipertensi esensial secara klasik didefinisikan sebagai hipertensi yang terjadi tanpa diketahui penyebabnya. Secara klinis, hipertensi biasanya terjadi pada penderita dengan kelebihan berat badan, sindroma metabolik, hiperuricemia, atau seseorang dengan hiperaktif sistem saraf simpatis. Gambaran lain adalah terdapatnya riwayat keluarga, ras hitam, dan riwayat berat badan lahir rendah (Kanellis et al., 2003).

Hipertensi sekunder adalah keadaan hipertensi yang diakibatkan oleh keadaan atau penyakit lain. Keadaan atau penyakit tersebut antara lain: primary renal disease, kontrasepsi oral hormonal, pheokromositoma, hiperaldosteronisme primer, penyakit renovaskuler, sindroma Cushing, sleep apnoe syndrome, koarktasio aorta, gangguan endokrin lain yaitu hipotiroidisme, hipertiroidisme dan hiperparatiroidisme (Kaplan, 2006).
Hipertensi dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kerusakan organ-organ target yang umum dijumpai pada penderita hipertensi adalah: (1). Jantung, hipertrofi ventrikel kiri, angina atau infark miokardium dan gagal jantung, (2). Otak, stroke atau transient ischemic attack, (3). Ginjal, penyakit ginjal kronis, (4). Penyakit arteri perifer, (5). Retinopati (Yogiantoro, 2006).

Kecenderungan terjadinya komplikasi tersebut bervariasi tergantung dari tekanan darah, di mana diketahui bahwa risiko komplikasi sudah dimulai pada saat tekanan darah meningkat di atas 110/75 mmHg atau pada tekanan darah berapapun tergantung ada tidaknya faktor risiko yang lain (Pastor-Barriuso et al., 2003). Hipertensi merupakan faktor risiko utama untuk penyakit kardiovaskuler, stroke, perdarahan intracerebral, meningkatkan risiko gagal jantung, insufisiensi dan gagal ginjal, serta dapat merupakan kegawat daruratan yang dapat mengancam jiwa (Kaplan, 2006). Hasil Framingham Heart Study menunjukkan bahwa tekanan darah 130 mmHg sampai 139/85 mmHg sampai 89 mmHg berhubungan dengan peningkatan 2 kali risiko relatif kejadian kardiovaskuler dibanding individu dengan tekanan darah di bawah 120/80 mmHg (Vasan et al., 2001).

Hipertensi dan penyakit jantung koroner merupakan penyebab kesakitan dan kematian yang utama di banyak negara di dunia. Angka di Amerika Serikat menunjukkan kejadian 500.000 ribu kematian oleh karena penyakit jantung koroner dan hipertensi dan menyebabkan pengeluaran yang sangat tinggi (Fields et al., 2004).

Hipertensi bersama-sama diabetes melitus, resistensi insulin, dislipidemi, dan obesitas, diketahui merupakan faktor risiko terjadinya penyakit jantung koroner. Hipertensi juga merupakan faktor risiko yang paling sering terjadi dan penting untuk terjadinya penyakit ginjal kronik, yang dapat berkembang menjadi gagal ginjal terminal. Penelitian tentang hipertensi menunjukkan pengobatan terhadap hipertensi yang intensif akan mengurangi insidensi stroke hingga 50%; infark miokard 20-25%; gagal jantung hingga lebih dari 50% (Kaplan, 2006).

Terdapat beberapa karakter yang menjadi faktor risiko untuk progresifitas kelainan ginjal pada penderita hipertensi esensial. Faktor risiko yang menyebabkan progresifitas kelainan ginjal pada hipertensi esensial adalah terdapatnya hiperuricemia atau gout. Sebelum terapi gout dikembangkan, angka kematian mencapai 25% akibat gagal ginjal. Tabel dibawah ini menggambarkan faktor risiko yang menjadi sebab progresifitas kelainan ginjal pada penderita hipertensi esensial (Johnson et al., 2005).

Tabel 1. Faktor Risiko Penyebab Progresifitas Kelainan Ginjal
pada Hipertensi Esensial


(Sumber: Johnson et al., 2005)

Daftar Pustaka :

Chobanian A.V., Bakris., Black., Cushman., Green., Izzo., Jones., Materson., Oparil S., Wright., Roccella. 2003. Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure, National Heart, Lung, and Blood Institute, National High Blood Pressure Education Program Coordinating Committee. Seventh report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation and Treatment of High Blood Pressure. Hypertension. 42:1206 –1252.

Kaplan N.M. 2006. Primary hypertension: Pathogenesis. In: Kaplan’s clinical hypertension. 9th ed. Lippincot Williams & Wilkins. Philadelpia.: 50 – 121.

Braunwald, E., Libby, P., Zipes, D. 2001. Heart Disease, vol 1, 6th edition, WB Saunders Co., Philadelphia, USA.

Kanellis, J., Nakagawa, T., Herrera-Acosta, J., Schreiner, G. F., Rodriguez-Iturbe, B., Johnson, R.J. 2003. A Single Pathway for the Development of Essential Hypertension. Cardiol Rev. 11: 180-96.

Yogiantoro, M. 2006. Hipertensi Esensial. Dalam: Sudoyo, A.W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simadibrata, K., Setiati, S (eds). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, edisi 4 jilid I: 610-4.

Vasan R.S, Larson M.G, Leip E.P. 2001. Impact of high normal blood pressure on the risk of cardiovascular disease. N Engl J Med. 345 : 1291 – 1297.

Fields L.E., Burt V.L., Cutler J.A. 2004. The burden of adult hypertension in the United States 1999 to 2000. A rising tide. Hypertension. 44: 398 – 404.

Johnson, R. J., Segal, M. S., Srinivas, T., Ejaz, A., Mu, W., Roncal, C., Sanchez-Lozada, L. G., Gersch, M., Rodriguez-Iturbe, B., Kang, D., Acosta, J. H. 2005. Essential Hypertension, Progressive Renal Disease, and Uric Acid: A Pathogenetic Link? J Am Soc Nephrol 16: 1909-1919

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s