DENSITAS TULANG

1. Definisi
Menurut Sloane (2004) tulang adalah organ keras yang berfungsi sebagai alat gerak pasif dan menjadi tempat pertautan otot, tendon, dan ligamentum. Tulang merupakan jaringan hidup. Tulang melindungi sumsum tulang, dan merupakan organ paling aktif yang bertugas memproduksi sel darah merah. Tulang berfungsi sebagai penopang tubuh, melindungi organ tubuh yang lunak dan mudah rusak, memberi bentuk tubuh serta juga sebagai tempat hemopoiesis darah.
Tulang normal disusun oleh matriks protein kolagen yang mengandung garam-garam mineral terutama fosfat dan kalsium. Keseimbangan antara kalsium darah dan kalsium tulang dalam keadaan normal diatur oleh hormon parathyroid dan vitamin D (Purwoastuti, 2009). Tulang menjadi keras dan kuat karena dibentuk oleh kristal kalsium yang padat serta serabut kolagen yang lentur, sehingga tulang juga berfungsi sebagai deposit mineral, khususnya kalsium, fosfat, dan magnesium dengan densitas tertentu melalui pengaturan serta homeostasis tubuh (Cosman, 2009).
2. Proses Pembentukan dan Resorbsi Tulang
Tulang terus-menerus mengalami proses peremajaan yang disebut pembentukan tulang kembali (bone remodeling), yang melibatkan sel yang ada dalam sumsum tulang. Pembentukan tulang terjadi setelah tulang menjadi tua atau mengalami keretakan kecil atau kerusakan miskroskopis berulang kali, yang pada akhirnya dapat mengurangi kekuatan tulang tersebut. Tulang yang mengalami kerusakan kecil diserap kembali oleh sel osteoklas. Setelah tulang diserap lalu sel pembentuk tulang (osteoblas) yang terbuat dari sel prekursor di sumsum tulang membentuk bagian tulang baru untuk menggantikan tulang yang dilarutkan oleh osteoklas (Cosman, 2009).
Hormon parathyroid mengatur pemindahan kalsium darah pada tulang. Kelebihan konsentrasi hormon parathyroid menambah konsentrasi kalsium dalam darah. Kalsium darah di ambil dari tulang lalu dikeluarkan melalui urin. Kelebihan konsentrasi vitamin D menambah pengambilan kalsium dari tulang dan pengendapannya kedalam jaringan (Purwoastuti, 2009).
Pasien penyakit ginjal kronik memiliki masalah dengan proses pembentukan tulang sejak terjadi insufisiensi ginjal ringan, yaitu GFR 50-80 ml/menit/1,73 m2, disertai peningkatan kadar hormon paratiroid (PTH) dan penurunan kadar 1,25 dihydroxycholecalsiferol. Kadar fosfat plasma merupakan sebab utama terjadinya hiperparatiroidisme sekunder. Fosfat mengatur sel paratiroid secara indipenden pada kadar kalsium serum dan kadar 1,25dihydroxycholecalciferol endogen (Noer, 2006).
Menurut Cozzolino (2001) dalam Dewayani (2007), pasien penyakit ginjal kronik dengan hemodialisis biasa menyebabkan hiperparatiroidisme sekunder. Hiperfosfatemia menurunkan konsentrasi kalsium terionisasi dengan cara berikatan langsung dengan kalsium. Kadar fosfat yang tinggi merangsang proliferasi sel paratiroid, sintesis dan sekresi hormon paratiroid secara langsung dan tidak langsung melalui penurunan kalsitriol serum, penurunan kadar kalsium yang terionisasi, dan penurunan resistensi otot terhadap Paratiroid Hormon (PTH). Tingginya PTH menyebabkan osteitis fibrosa dan berkurangnya masa tulang karena kalsium berikatan dengan fosfat.
3. Pengukuran Densitas Tulang
Menurut Cosman (2009), beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mengukur densitas mineral tulang adalah sebagai berikut:
a. Central Dual X-Ray Absorptiometry
Metode ini merupakan metode terbaik untuk menentukan densitas tulang. Cental DXA berbentuk seperti tandu rumah sakit dengan bagian bawahnya ditutup. Alat ini beralas tipis, lengan yang bisa digerakan di atasnya, dan alat ini disambungkan ke komputer. Bagian bawah meja dipasangi peralatan sinar X. Seseorang yang menjalani pengukuran kepadatan tulang dapat mengenakan pakaian lengkap, tetapi tidak diperkenankan menggunakan bahan dari logam.
Alat ini memiliki sinar X dengan dua energi berbeda yang diserap oleh tubuh dan tulang dalam jumlah yang berbeda. Banyaknya radiasi yang kemudian diserap oleh lengan yang bergerak diatas tubuh digunakan untuk menghitung kepadatan tulang dan jaringan lunak (otot atau lemak) yang ada. Daerah yang paling sering diukur menggunakan central DXA adalah pinggul dan tulang belakang. Waktu yang dibutuhkan untuk mengukur selama lima sampai sepuluh menit. Lengan bawah atau pergelangan tangan dan seluruh badan juga diukur. Paparan radiasi alat central DXA sangat rendah, sekitar dua sampai empat mREMs, yaitu sekitar seperdua belas sinar X standar pada dada.
b. Peripheral DXA dan SXA (Singel X-RAY Absorptiometry)
Alat ini digunakan untuk mengukur tulang-tulang perifer (bagian tepi tubuh) dan dapat dilakukan pada tumit atau lengan bawah (misalnya, alat Lunar PIXI) atau jari (alat Schick accu DEXA).
c. Ultrasound
Ultrasonografi merupakan teknik dimana gelombang suara berfrekuensi sangat tinggi yang tidak dapat didengar oleh telinga manusia. Tidak ada radiasi dalam proses pemeriksaannya. Ultrasound mengukur kecepatan suara, saat sinar bergerak menembus tulang dan jaringan lunak diatasnya, dan kekuatan sinyal berkurang, atau jumlah gelombang suara yang hilang saat bergerak menembus bagian yang diukur. Teknik ini tidak menimbulkan radiasi karena yang digunakan adalah gelombang suara bukan sinar X. Dan tidak dibutuhkan ahli radiologi untuk melakukan prosedurnya.
Alat ini tidak hanya untuk mengukur tulang di tumit, tetapi juga mengukur lengan bawah dan tulang kering. Teknik ini tidak memiliki kemampuan memprediksikan patah tulang pinggul seperti yang dimiliki teknik pengukuran DXA pinggul, tetapi kemampuannya memprediksi semua jenis patah tulang yang lain sangat bagus. Salah satu ciri yang membedakan teknik ini (ultrasound) dengan teknik DXA dan SXA adalah ketelitiannya yang rendah. Ketelitian mengacu pada kesalahan yang terjadi pada setiap ulangan pengukuran (meskipun tidak ada perubahan nyata pada massa tulang).
d. Quantitative Computed Tomography (QCT)
Quantitative Computed Tomography mengukur densitas tulang di ruas tulang belakang. Pengukuran yang dilakukan di bagian tulang belakang pada pasien dengan penyakit degeneratif tertentu.Umumnya teknik ini mempunyai ketelitian yang buruk ketimbang teknik yang lain, dan melibatkan paparan radiasi yang sangat tinggi, penggunaan teknik ini untuk memeriksa kepadatan tulang tidak direkomendasikan pada sebagian besar pasien.
e. Radiografi tangan
Alat ini berbasik sinar X, tangan disinari di samping suatu biji alumunium untuk mengukur densitas tulang. Hasilnya dikirimkan ke pusat pengolahan data untuk menentukan densitas tulang menggunakan komputer. Meskipun alat ini mudah dibawa, tetapi membutuhkan pusat pengolahan data yang terpisah, sehingga hasilnya tidak dapat tersedia secepatnya.
4. Kriteria Diagnostik
Menurut Rebecca dan Brown (2007), hasil pengukuran DXA pinggul dan tulang belakang pertama-tama dihitung sebagai jumlah mineral perdaerah tulang dengan satuan garam. Normalnya setiap tulang mempunyai densitas tulang yang berbeda.
Ukuran densitas tulang biasanya dinyatakan dengan nilai-T dan nilai-Z.
a. Nilai-T
Nilai T biasanya digunakan untuk hasil pengukuran densitas tulang yang dihasilkan oleh DXA scan. Nilai hasil pengukuran ini tidak terlalu bermanfaat, namun perangkat lunak (software) alat scan akan menggunakannya untuk menghitung suatu angka yang disebut dengan nilai T. Nilai T pada dasarnya membandingkan densitas mineral tulang dengan hasil pengukuran rata-rata yang diambil dari orang-orang dewasa muda sehat pada jenis kelamin yang sama. Kekuatan tulang secara alamiah memburuk seiring dengan bertambahnya usia, sehingga nilai T biasanya negatif (hal ini menunjukan bahwa densitas mineral tulang lebih rendah daripada densitas mineral tulang orang dewasa muda). Nilai T sangat jauh di bawah nol menunjukan baha tulang kita beresiko atau mengalami osteoporosis. Tetapi apabila belum mengalami osteoporosis dan densitas tulang mulai menurun disebut osteopenia.
Tabel 2.3 Diagnosis osteoporosis menggunakan nilai T
Keparahan Nilai T Resiko fraktur
Normal Lebih dari -1 Rendah
Osteopenia Kurang dari -1, namun lebih dari -2,5 Di atas rata-rata
Osteoporosis Kurang dari -2,5 Tinggi

Menurut (Kosnayani, 2007), dari berbagai hasil penelitian dan pengukuran diperoleh konversi nilai T-score dengan nilai densitas mineral tulang (gr/cm2): Lampiran 1.
b. Nilai-Z
Menurut Cosman (2009), nilai Z membandingkan hasil pengukuran densitas tulang seseorang dengan rata-rata hasil pengukuran densitas tulang pada populasi referensi dengan usia dan jenis kelamin yang sama (berbeda dengan nilai-T, yang membandingkan hasil pengukuran pasien dengan hasil pengukuran pada populasi muda dengan massa tulang maksimum). Seperti pada nilai T, nilai Z juga mempertimbangkan variasi dalam populasi normal dengan usia yang sama. Hasilnya dinyatakan dalam nilai positif dan negatif untuk menunjukan pengukuran di atas atau dibawah rata-rata populasi referensi.
Nilai antara -2 dan +2 meliputi 95 % populasi, jadi ketika nilai -2 hasilnya adalah di 5 % di bawah usia pasien. Ketika nilai Z +2, hasil berada di atas 95 % untuk usia pasien, nilai 0 berarti densitas tulang seseorang rata-rata untuk usia dan jenis kelaminnya. Nilai -1 berarti orang tersebut mempunyai densitas tulang satu standar deviasi lebih rendah dari rata-rata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s